Selasa, 22 Desember 2009

Makalah Hubungan aksel dan psikis

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Pada era sekarang ini, manusia dituntut untuk lebih berpikir kritis dan praktis. Terutama mereka yang bergelut dalam dunia pendidikan. Banyak ide bermunculan mengenai program-program pendidikan yang bertujuan untuk mendongkrak potensi peserta didik. Di Indonesia sendiri sepert yang kita ketahui banyak kurikulum yang silih berganti, mulai dari CBSA, KBK, maupun KTSP. Semua itu berubah sesuai perkembangan zaman. Pergantian kurikulum hanyalah satu dari sekian banyak kiat-kiat yang dilakukan untuk memperbaiki mutu pendidikan kita.

Beberapa tahun terakhir, Indonesia mengenalkan program terbaru bagi dunia pendidikan, yaitu program percepatan atau akselerasi. Program percepatan ini juga merupakan salah satu cara yang dilakukan guna meningkatkan mutu pendidikan Indonesia. Yang melatarbelakangi diselenggarakannya program ini adalah banyaknya kasus dimana dalam satu kelas terdapat suatu jurang antara siswa mempunyai kemampuan lebih dengan siswa yang berkemampuan dibawahnya. Dan hal itu dapat menghambat proses KBM, karena sebagian siswa menuntut untuk cepat sedangkan sebagian yang lain meminta untuk memperlambat pembahasan materi dalam KBM. Hal yang demikian itu menimbulkan suatu rumusan masalah bagaimana solusi yang tepat untuk mengetengahi kasus tersebut, sehingga dicanangkanlah program akselrasi.

Pada umumnya program akselerasi ini diberlakukan di tingkat Sekolah Menengah Pertama(SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA). Pada awalnya, adanya kelas akselerasi ini disambut dengan decak kagum oleh masyarakat, karena pada kelas ini siswa dapat mempersingkat waktu tempuh sekolah, sekolah yang seharusnya ditempuh selama tiga tahun hanya ditempuh selama dua tahun di kelas akselerasi ini. Tujuan diadakannya kelas akselerasi adalah untuk menghimpun peserta didik yang memiliki bakat khusus dan kemampuan kecerdasan tinggi atau di atas rata-rata untuk dikembangkan secara optimal dan dapat menyelesaikan masa belajarnya dalam 2 tahun.

Tidak semua SMP atau SMA mempunyai kelas percepatan ini. Di Kulon Progo, misalnya, baru ada satu SMA yang memiliki program ini, yaitu SMA 1 Wates yang baru tiga tahun ini membuka kelas percepatan. Ataupun di SMA 1 Wonosari dan di SMA 8 Jakarta. Dan rata-rata di setiap satu angkatan hanya ada satu kelas akselerasi, dimana setiap kelas akselerasi hanya menampung maksimal 24 siswa. Begitu pula dengan siswanya, tidak semua siswa dapat masuk di kelas tersebut. Untuk diterima menjadi siswa akselerasi harus menempuh beberapa tes.

B. KAJIAN TEORI
Sekolah dipandang perlu memberikan layanan kepada siswa yang memiliki tingkat kemampuan, kecerdasan, bakat yang luar biasa dalam bentuk perlakuan pendidikan peng-ajaran diatas standar (rata-rata). Perlunya perhatian khusus kepada siswa yang memiliki kemampuan, kecerdasan dan bakat yang luar biasa. Pengembangan potensi tersebut memerlukan strategi yang sistematik dan terarah kepada anak didik sehingga lebih meperhatikan perbedaan antar anak didik dalam bakat dan minatnya.
Kelas ini dirancang menjadi kelas unggulan. Proses rekrutmen untuk melihat potensi siswa dilakukan secara multidimensional. Rekrutmen dilakukan dengan mengembangkan konsep keberbakatan dari Renzulli, Reis dan Smith (1978). Konsep itu menyebutkan bahwa anak berbakat mempunyai IQ minimal 125 menurut skala Wechsler, selain itu harus mempunyai task commitment dan creativity quotion di atas rata-rata.

Adapun dasar hukum diselenggarakannya program akselerasi :
1. Undang-Undang No. 2 Tahun 1989 Pasal 8 Ayat 2
2. Undang-Undang No. 2 Tahun 1989 Pasal 24 Ayat 1, Pasal 24 Ayat 2, Pasal 24 Ayat 6
3. GBHN 1993 dan GBHN 1998
4. Keputusan Mendiknas No. 048/U/1992 dalam Pasal 16.
5. Keputusan Mendiknas No. 048/U/1992 dalam Pasal 16

Tujuan diadakannya kelas akselerasi adalah untuk menghimpun peserta didik yang memiliki bakat khusus dan kemampuan kecerdasan tinggi atau di atas rata-rata untuk dikembangkan secara optimal dan dapat menyelesaikan masa belajarnya dalam 2 tahun. Hasil yang diharapkan dari program akselerasi :
1. Kelulusan memiliki rata-rata NUAN : 7,00 atau lebih
2. Memiliki Keberhasilan yang tinggi:
diterima di perguruan Tinggi Ternama dalam dan luar negeri.
3. Mampu menghasilkan siswa yang memiliki:
• Keimanan dan ketaqwaan
• Nasionalisme dan Patriotisme yang tinggi dengan kepribadian Pancasila
• Wawasan IPTEK yang luas
• Motivasi dan Komitmen yang tinggi untuk prestasi
• Kepedulian sosial dan Kepemimpinan
• Disiplin pribadi yang tinggi
• Tanggung jawab yang tinggi
• Kondisi fisik yang prima
• Gemar membaca dan meneliti
• Berbahasa Inggris yang baik dan lancar

















BAB II
PROGRAM AKSELERASI

A. SELUK BELUK AKSELERASI
Penyelenggaraan program akselerasi (percepatan belajar) dianggap salah satu alternatif bagi siswa yang memiliki kemampuan dan kecerdasan di atas rata rata. Ini dilakukan untuk mengimbangi kekurangan yarig terdapat pada kelas klasikal yang bersifat massal. Melalui program ini memungkinkan siswa dapat menyelesaikan waktu belajar lebih cepat dari yang ditetapkan.

Dr Herry Widyastono MPd mengelompokkan kecerdasan dan kemampun siswa dalam tiga strata: anak yang memiliki kemampuan dan kecerdasan di atas rata rata, rata rata, dan di bawah rata rata. Siswa di bawah rata rata memiliki keeepatan belajar di bawah kecepatan belajar siswa umumnya. Sebaliknya, siswa yang memiliki kemampuan dan kecerdasan di atas rata rata memiliki kecepatan belajar di atas kecepatan belajar siswa siswa lainnya.
Siswa yang memiliki kemampuan dan kecerdasan rata rata, menurut dia, selama ini diberikan layanan pendidikan dengan mengacu pada kurikuluin yang berlaku secara nasional. Itu karena kurikulum tersebutdisusun terutama diperuntukkan bagi anak-anakyangmemilikikemampuandan kecerdasanrata-rata. Siswa dengan kemampuan dibawah rata-rata, diberikan layanan pengajaran remidi (remedial teaching).

Herry yang berbicara dalam seminar Program Percepatan Belajar bagi Pengawas dan Kepala SMP Negeri dan Swasta di Jakarta, mengatakan bahwa mereka belum mendapat layanan pendidikan sebagaimana mestinya., "Bahkan, kebanyakan sekolah memberikan perlakuan yang standar (rata rata), bersifat klasikal dari massal, terhadap semua siswa, baik siswa di bawah rata rata, raat-rata, dan di atas rata rata, yang sebenarnya memiliki kebutuhan berbeda," ujarnya.
Akibatnya, siswa di bawah rata rata yang memiliki kecepatan belajar di bawah rata-rata akan selalu tertinggal dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar. Siswa di atas rata rata akan jenuh karena harus menyesuaikan diri dengan kecepatan belajar siswa siswa lainnya. Sekitar 30 persen siswa SMA yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa berprestasi di bawah potensinya. Herry Menurut penelitian, ada 20 persen siswa SLTP dan SD di Jawa Barat, Jawa Timur, Lampung, dan Kalimantan Barat yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa, berisiko tinggal kelas karena nilai rata rata rapornya untuk semua mata pelajaran catur wulan 1 dan 2, kurang dari enam. Bagi siswa dalam kategori ini, perlu ada pelayanan pendidikan khusus. Salah satu alternatif yang bisa dilakukan itu tadi, dengan menyeleng-garakan akselerasi, program percepatan belajar.

Drs. Fakhruddin MPd, wakil kepala SMA Labschool Rawamangun menyebut tiga bentuk atau model penyelenggaraan program akselerasi yang dapat dilakukan. Yakni, program khusus, kelas khusus, dan sekolah khusus. Namun dia menyatakan, setiap bentuk memiliki kelebihan dan kekurangan.
Model sekolah khusus yang memberikan layanan pada suatu sekolah khusus diperuntukkan bagi siswa akselerasi (berasrama maupun tanpa berasrama), misalnya. Kelebihan dalam sekolah berasrama, waktu belajar bisa lebih panjang dan memudahkan kegiatan ekstrakurikuler.
Tanpa berasrama, memudahkan perencanaan kegiatan dan ada interaksi dengan sekolah lain. Kekurangannya, sekolah berasrama tidak sesuai untuk jenjang SD, sedangkan tanpa berasrama akan timbul elitis yang kurang baik. Bagaimanapun, menurut Herry Widyastono, penyelenggaraan kelas akselerasi bagi siswa yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa merupakan salah satu strategi alternatif yang relevan, karena mereka memiliki kecepatan belajar dan motivasi belajar di atas siswa-siswa lainnya.
Namun, ini tidak berarti peningkatan mutu pendidikan untuk peserta didik secara klasikal massal terabaikan, melainkan perbedaannya terletak pada intensitas dan ektensitas perhatian yang diberikan kepada peserta didilk sesuai dengan kondisi mereka.

B. SISTEM DALAM PROGRAM AKSELERASI
Dalam rekruitmen siswa akselerasi, terdapat dua tahap, yaitu :
1. Tes Seleksi
a. . Psikotes
Psikotes bekerjasama dengan biro Psikologi yang berwenang untuk mengetahui kemampuan intelegensi, kematangan emosi, motivasi berprestasi, kreativitas dan komitmen tes
b. Tes Potensi Akademik (TPA)
Mata pelajaran :
PPKn, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, dan IPA

2. Wawancara
Tes wawancar bertujuan untuk mendapatkan bebagai informasi tentang calon, antara lain berupa Scor tes, latar belakang kehidupan, cita-cita masa depan, minat siswa, motivasi.

Namun, selain dua tahapan tersebut ada juga sekolah yang menambahkan tahap lain yaitu pengamatan. Pada tahap pengamatan ini siswa yang sudah terjaring/kelompok calon siswa akselarasi diamati oleh team secara terus-menerus selama 2 bulan semester 1 kelas I dalam hal: kemampuan bersifat kritis mengemukakan pendapat baik lisan maupun tertulis, beradaptasi bersosialisasi dan bertanggung jawab. Jika hasil pengamatan menyatakan bahwa siswa tersebut tidak sanggup menjalani program percepatan, maka akan menjadi bahan pertimbangan antara siswa, pihak sekolah, dan wali murid.

Pengambilan keputusan “penerimaan siswa akselerasi” dilaksanakan bertahap, mulai dari musyawarah guru hingga pelaksanaan beberapa agenda sebagai berikut :
• Memanggil anak dan Orang Tua yang bersangkutan untuk mendapatkan penjelasan tentang program Akselarasi
• Siswa dan Orang Tua yang telah menyetujui dengan surat kesediaannya dinyatakan sebagai siswa program Percepatan Belajar
• Siswa tersebut dikelompokkan pada kelas khusus


Mengenai kurikulum yang digunakan dalam program akselerasi, sedikit bebeda dengan krikulum pada kelas regular (biasa). Kelas akselerasi menggunakan kurikulum KBK/KTSP yang dipadatkan dari 6 semester selama 3 tahun menjadi 6 semester dalam jangka waktu 2 tahun. Jadi, materi pelajaran yang seharusnya diajarkan selama 3 tahun harus diselesaikan selama 2 tahun. Dengan demikian kelas akselerasi melaksanakan ujian blok semester setiap 4 bulan sekali, dan ujian kenaikan kelas setiap delapan bulan sekali. Untuk jam pelajaran, masing-masing sekolah memberikan kebijakan yang berbeda-beda. Misalnya saja, di SMA 1 Wates, jam pelajaran kelas akselerasi tetap sama dengan jam pelajaran kelas reguler, masuk jam 07.00 dan pulang jam 13.45. Namun di SMA 1 Wonosari, jam pelajaran kelas akselerasi berakhir pada sore hari. Siswa kelas akselerasi akan melaksanakan Ujian Nasional bersama dengan kakak angkatan kelas regular.


BAB III
HUBUNGAN ANTARA KELAS AKSELERASI DENGAN PERKEMBANGAN PSIKIS SISWA

A. Kelemahan akselerasi
Penyelenggaraan kelas akselerasi yang sudah diujicobakan beberapa tahun terakhir ini masih mengandung pro dan kontra. Beberapa kelemahan mengiringi penyelenggaraan kelas akselerasi itu.
Pertama, stigmatisasi pada diri siswa yang ada di kelas reguler. Dalam sebuah kesatuan lingkungan, bisa dikatakan bahwa kelas reguler adalah kelas yang relatif jelek bila dibandingkan dengan kelas akselerasi.
Kedua, timbulnya budaya inferior, muncul kelas eksklusif, arogansi, dan elitisme. Dengan kondisi yang betul-betul berbeda dengan segenap potensi intelektual yang lebih tinggi, jelas siswa-siswa kelas akselerasi akan jauh lebih berprestasi dibanding kelas reguler. Inferioritas pun mudah menghinggapi siswa kelas reguler, dan sebaliknya eksklusivisme, arogansi dan elitisme akan mudah melekat pada diri siswa-siswa kelas akselerasi. Masing-masing siswa membentuk group reference mereka sendiri-sendiri.
Ketiga, terjadi dehumanisasi pada proses belajar di sekolah. Materi pelajaran yang diselesaikan oleh siswa reguler selama satu tahun harus dilalap habis siswa akselerasi selama satu semester (setengah tahun). Dengan alokasi waktu yang jauh lebih pendek ini mau tidak mau siswa harus belajar keras. Segi intelektualitas, potensi mereka memang memungkinkan. Tetapi, mereka bukanlah mesin yang bisa diset untuk hanya melakukan satu aktivitas.
Keempat, siswa kelas akselerasi tidak memiliki kesempatan luas untuk belajar mengembangkan aspek afektif. Padatnya materi yang harus mereka terima, banyaknya pekerjaan rumah yang harus mereka selesaikan, ditunjang kemampuan intelektual yang mereka miliki dan teman-teman sekelas yang rata rata pandai, membuat iklim kerja sama mereka menjadi terbatas. Tugas-tugas itu bisa mereka selesaikan sendiri.

Dari sisi waktu, penyelenggaraan kelas akselerasi menguntungkan, siswa yang bakat intelektualnya tinggi dibantu secara khusus, sehingga mereka mendapatkan bantuan pengajaran lebih sesuai bakatnya. Mereka akan dapat cepat lulus, diperkirakan setahun lebih awal dibanding siswa biasa. Jadi, keuntungannya terletak pada akselerasi pengajaran. Dengan program percepatan ini diharapkan siswa berbakat tidak bosan di kelas yang sama dengan siswa lain, sehingga tidak mengganggu, mengacau kelas, dan dia dapat terus maju dengan cepat. Kelas model ini memang menjanjikan siswa lebih cepat selesai dibandingkan melalui tahapan-tahapan pada umumnya.
Dalam perdebatan soal pendidikan nasional, banyak dipersoalkan kurangnya pendidikan nilai di sekolah-sekolah, dari SD sampai SMU. Disadari, kebanyakan sekolah terlalu menekankan segi kognitif saja, tetapi kurang menekankan segi nilai kemanusiaan yang lain. Maka mulai disadari pentingnya pendidikan nilai, termasuk pendidikan budi pekerti dan segi-segi kemanusiaan lain, seperti emosionalitas, religiusitas, sosialitas, spiritualitas, kedewasaan pribadi, dan afektivitas. Masalahnya, pendidikan nilai tidak bisa dipercepat, bahkan instan. Pendidikan nilai kemanusiaan memerlukan latihan dan penghayatan yang membutuhkan waktu lama, sehingga sulit dipercepat. Misalnya, penanaman nilai sosialitas perlu diwujudkan dalam banyak tindakan interaksi antarsiswa dan kerja sama; penanaman nilai penghargaan terhadap manusia lain membutuhkan latihan dan mungkin hidup bersama orang lain, dan tidak cukup hanya dengan pengajaran pengetahuannya.
Dengan mencermati kelemahan-kelemahan kelas akselerasi, konsep itu mestinya dikembalikan pada gagasan awal sebagai proses uji coba. Landasannya ialah, perkembangan intelektual dan moral anak yang baik tidak bisa instan, mereka harus dipaksa melalui tahapan-tahapan perkembangan sebagaimana anak-anak pada umumnya. Memaksakan diri dalam berbagai ketimpangan tiada ubahnya mengejar gengsi, gengsi orang tua mempunyai anak-anak cerdas. Juga gengsi di pihak sekolah, karena akan dianggap sekolah unggulan, dan biaya pendidikan di kelas tersebut relatif memang lebih mahal.

B. YANG DIBUTUHKAN
Menurut Prof Suyanto (2003) pengelompokan siswa secara homogen berdasarkan kemampuan akademik menjadi kelas superbaik, amat baik, baik, sedang, kurang, sampai ke kelas "gombal", tidak memiliki dasar filosofi yang benar. Yang memprihatinkan, pengelompokan itu disertai program promosi dan degradasi. Siswa yang tidak mampu mempertahankan prestasi akademiknya bisa digusur dari kelas superbaik ke kelas sedang. Bahkan mungkin bisa meluncur ke kelas paling bawah, kelas "gombal".
Persoalannya, apakah program kelas unggulan atau akselerasi mampu mendongkrak mutu SDM kita yang dinilai masih berada pada aras rendah? Apakah ada jaminan, anak-anak berotak cerdas yang jumlahnya hanya beberapa gelintir yang telah sukses menernpuh program kelas unggulan, atau akselerasi mampu menjadi generasi cerah budi yang memahami dinamika hidup yang berkembang di tengah-tengah masyarakat dan bangsanya? Kalau ini yang terjadi, dunia pendidikan kita telah lepas dari lingkaran dan dinamika kehidupan kontekstual yang berkembang di tengah-tengah masyarakat. Implikasinya, out-put yang dilahirkan oleh institusi pendidikan kita hanyalah generasi-generasi berotak brilian dan cerdas intelektualnya, tetapi miskin kecerdasan hati nurani dan spiritual. Pada akhirnya justru membikin mereka menjadi asing hidup di tengah-tengah masyarakat. Tidak memiliki kepekaan dalam merasakan denyut nadi kehidupan yang berlangsung di sekelilingnya.

Kita amat membutuhkan sosok manusia yang memiliki kecerdasan spiritual dan apresiasi tinggi terhadap nilai-nilai kejujuran, yang menciptakan damai di tengah berkecamuknya kebencian, yang menawarkan pengampunan bila terjadi penghinaan. Yang menabur benih kerukunan bila terjadi silang sengketa, yang memberikan kepastian bila terjadi kebimbangan. Yang menegakkan kebenaran bila terjadi beragarn bentuk penyelewengan dan kesesatan. Yang menjadi pembawa terang di tengah kegelapan hidup.
Nilai-nilai kejujuran, sudah menjadi moralitas bangsa yang tergadaikan. Budaya malu sudah nyaris hilang dari memori bangsa. Korupsi, manipulasi, kolusi, nepotisme, dan sejenisnya marak terjadi di mana-mana. Perilaku keagamaan hanya sampai pada tataran ekstrinsik. Agarna hanya dijadikan sebagai topeng untuk pencapaian kepentingan. Para elite pemimpin tidak bisa jadi teladan bagi anak-anak bangsa. Yang terjadi justru sebuah kebanggaan bila mereka mampu melakukan pembohongan publik, sehingga terlepas dari jerat hukum yang mengancam mereka atas perbuatan korup yang telah dilakukan. Sementara itu, di aras akar rumput, sentimen kesukuan dan etnis, anarkisme yang dibungkus fanatisme keagamaan, main hakim sendiri, dan kekerasan lainnya menjadi adonan perilaku yang gampang disaksikan dalam kehidupan sehari-hari. Apakah kelas akselerasi mampu menjawab dilematika pendidikan yang "tergadaikan" ini? Secara konseptual bagus, tetapi jika di dataran implementasi menimbulkan pro dan kontra, perlulah dicari solusi yang paling tepat. Sebagai sebuah proses pendidikan memerlukan pentahapan yang matang.







BAB IV
PENUTUP

KESIMPULAN
Berbagai penelitian mengenai siswa unggul dan adanya program akselerasi di berbagai Negara yang berusaha mengakomodasi kebutuhan golongan siswa tersebut, diulas dalam pidato tersebut. Termasuk pula berbagai pro dan kontra mengenai dampak akselerasi dari berbagai aspek. Dimulai dari berbagai penelitian yang dilakukan pada beberapa SMA di Indonesia yang memiliki program akselerasi, guru besar baru Asmadi Alsa menyimpulkan beberapa hal, diantaranya bahwa siswa akselerasi memang memperoleh percepatan dalam hal perkembangan secara kognitif, namun tidak dalam hal afektif dan psikomotoris.

Namun begitu, aktivitas belajar yang padat dapat memacu siswa sehingga memiliki daya juang yang tinggi dalam belajar, karena memang tidak ditemukan adanya dampak negatif dari hal itu. Meski demikian, pemantauan pada semester awal menjadi amat penting dalam rangka melakukan tindakan lanjutan bagi siswa yang ditemukan memiliki potensi tidak cukup mampu melakukan penyesuaian diri dengan tuntutan program maupun juga lingkungan akademik dan sosial yang baru. Bagaimanapun, evaluasi terhadap program akselerasi di Indonesia harus terus dilakukan dari berbagai aspek. Keberhasilan akselerasi di Negara lain tidaklah dapat menjadi pegangan, mengingat kondisi demografis dan sosio-kultural yang berbeda.

Yang kita butuhkan adalah generasi yang cerdas secara emosi, spiritual dan intelektual, bukan hanya generasi yang cepat lulus dan tidak mempunyai kecakapan sosial. Adanya kelas akselerasi membuka peluang siswa untuk mempersingkat waktu temph sekolah, namun mengabaikan perkembangan psikis siswa. Bahkan seleksi masuk kelas akselerasi pun hanya cenderung mendasarkan pada IQ yang tinggi, bukan pada kecerdasan emosi dan spiritual yang sangat penting bagi kesuksesan di masa depan.





DAFTAR PUSTAKA

Sugihartono,dkk.2007.Psikologi Pendidikan.Yogyakarta:UNY Press
http://www.suaramerdeka.com/harian/0403/29/kha1.htm
http://www.sampoernafoundation.org/content/view/205/48/lang,id/
http://integralsolo.wordpress.com/2007/07/02/tinjauan-pakar-psikologi-tentang-program-akselerasi/>>>
http://www.ugm.ac.id/index.php?page=rilis&artikel=792
http://202.146.5.33/kesehatan/news/0408/15/220038.htm
http://puskat.psikologi.ui.ac.id/index.php/artikel/Kebutuhan-Sosial-dan-Emosional-pada-Anak-Berbakat.html
http://www.smun8.net/index.php?option=com_content&task=view&id=32&itemid=102



Minggu, 20 Desember 2009

Aku yang melakukannya

Satu hal yang terbesit di hatiku
Tatkala di merasuki seluruh nadiku
Kabar itu seakan memukul-mukul dinding paruku
Hentak. Hentakan!Terhentak!!
Seakan kutemukan satu beban yang pasti
Beban yang melengkapi sisi neracaku
Yang dulu goyah
Tetap goyah. Dan semakin goyah.
Ssok terhormat yang berdiri disana
Suara lembut itu
Namun terabai oleh perhatianku
Rentetan kata yang kudengar
Bukan suara itu
Andai dinding itu membusung dadanya
Dan suara itu terpantul menggema
Mungkin mengoyak kendang telinga
Memporakporandakan tulang pendengaran
Terkesan berlebihan memang
Hanya karena hatiku yang membandel
Aku yang menutup wajah
Wahai Dzat pemilik nyawaku
Maafkan diri ini
Yang kufur atas nikmatMu
Dan tak pernah puas
Wahai sosok yang terhormat itu
Maaf, bukan Anda yang mengiris hatiku
Tapi akulah yang menyayat dinding hatiku
Aku yang melakukannya
Aku yang melakukannya
Aku yang melakukannya


Senin, 30 November 2009

ijinkan aku melupakanmu

Wahai engkau yang pernah singgah di lubuk hatiku,
izinkan aku untuk melupakanmu,
akan kuhapus memori indah yang pernah terjadi dahulu.

Biarkan aku melangkah dengan pijakan pada kakiku,
jangan kau sandungi dengan beban kenangan,
yang akan membelenggu langkahku,
yang akan menghancurkan harapanku.

Ya, izinkan aku untuk melupakanmu,
sepenuh hati,
segenap jiwaku,
seluruh perasaanku...

Minggu, 29 November 2009

Akselerasi ! Benarkah itu jalan yang tepat untuk mereka?

Akselerasi adalah salah satu program yang dicanangkan oleh pemerintah sebagai lahan untuk siswa yang memiliki kemampuan yang lebih. Dikutip dari kata-kata salah seorang guru pengampu salah satu mata pelajaran di kelas akselerasi yang mengatakan bahwa siswa ekselerasi pada umumnya mempunyai ciri khas tersendiri, unik, jika dibandingkan dengan siswa kelas regular. Begitu pun dengan pendapat sebagian siswa regular terhadap siswa akselerasi.
Akselerasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia secara singkat diartikan sebagai percepatan. Menurut (Latifah, 2006) akselerasi adalah “program layanan pendidikan yang diberikan kepada siswa yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa untuk menyelesaikan masa belajarnya lebih cepat dari siswa yang lain (reguler). Menurut Hawadi (2004 : 121) istilah akselerasi dalam program ini berarti diartikan: “meningkatkan kecepatan waktu dalam menguasai materi yang dipelajari, yang dilakukan pada kelas khusus. Program akselerasi dapat diartikan dengan seperangkat kegiatan pendidikan yang diatur sedemikian rupa, sehingga dapat dilaksanakan oleh anak didik yang memiliki potensi kecerdasan yang lebih dari siswa lain dalam waktu yang lebih singkat dari biasanya”.
Beberapa tahun terakhir banyak digembar-gemborkan diadakannya program akselerasi di sekolah-sekolah. Kita ambil contoh ekselerasi di SMA, dimana masa SMA yang sewajarnya ditempuh selama tiga tahun akan dijalani selama dua tahun di kelas akselerasi. Dari pengertian tersebut kita tangkap suatu rumus bahwa siswa akselerasi adalah mereka yang mempunyai IQ diatas rata-rata. Penyaringan masuk program akselerasi pun berdasarkan hasil tes IQ yang disertai kemauan dan kesanggupan siswa. Proses penyaringan yang melalui beberapa tahap, antara lain : tes kemampuan (mengerjakan soal), tes IQ, dan wawancara. Sehingga didapatkan kemantapan atas penyaringan yang begitu ketat.
Namun sangat disayangkan, ketika “produk aksel” sebutan bagi mereka lulusan akselerasi tidak lebih baik dari pada temannya yang mengikuti program kelas regular. Hasil tes IQ yang tinggi tidak menjamin kesuksesan mereka dalam menempuh masa-masa ke-aksel-an mereka. Ketika tingginya IQ tidak diimbangi dengan kecerdasan emosi dan spiritual yang tinggi pula akan sangat buruk akibatnya. Hal itu justru akan menghambat mereka dalam menyesuaikan diri secara psikis terhadap lingkungan, yang akan mengganggu konsentrasi mereka dalam menerima pemadatan materi pelajaran. Dengan begitu hasil yang mereka dapatkan dapat dikatakan tidak lebih baik atau sama dengan hasil yang didapatkan olah siswa kelas regular. Mereka yang lahir prematur itu dirasa kurang siap secara mental dalam menghadapi dunia pendidikan tingkat atasnya, dimana faktor kedewasaan pola pikir lebih dituntut untuk bisa bergaul dengan teman yang memang lebih dewasa dari pada mereka.
Bahasan selanjutnya mengenai timbangan antara IQ, SQ, dan EQ yang harus dilirik ketika memasuki wilayah akselerasi. Ketiga macam kecerdasan tersebut harus seimbang. Karena perbedaan yang tajam diantara tingat ketiga kecerdasan tersebut akan sangat mengganggu belajar mereka. Toh, ketika dikatakan bahwa belum ada tes yang baku untuk mengukur seberapa besar tingkat SQ dan EQ seseorang, namun setidaknya diri kita sendiri yang harus senantiasa mengasahnya dan kita pun mengetahui sampai tingkat mana kecerdasan emosi dan spiritual kita melalui instropeksi diri. Hal ini lah yang harus benar-benar diketahui oleh para calon warga aksel sebelum menginjakkan kaki di wilayah serba padat tersebut. Karena di dalam kehidupan keseharian anak aksel akan banyak dituntut untuk serba cepat, cepat dalam memahami materi pelajaran yang dipadatkan, cepat dalam mengerjakan tugas, ataupun cepat dalam berpikir,mengambil keputusan,dan bertindak. Ketika mental kita tidak kuat, kejenuhan yang luar biasa akan dirasa ketika yang dihadapi hanyalah penumpukan tugas dan pemadatan materi, tugas - belajar -tugas - belajar- tugas…dst. Dan dapat mencapai titik jenuh yang rawan ketika secara psikis mereka merasa tertekan dan terlalu terbebani, hal itu menjadi indikasi bahwa kecerdasan emosi dan spiritualnya tidak mengimbangi kecerdasan intelegensinya.
Menjawab judul diatas. Jalan akselerasi dapat dikatakan tepat bagi mereka jika mereka benar-benar menyadari ‘siapa mereka’ sebelum mencicipi perjalanan ke-aksel-en tersebut. Serta dapat dikatakan tidak tepat bagi mereka yang belum menyadari ‘siapa mereka’ dan hanya mengincar jalan itu sebagai jalan pintas mempersingkat untuk waktu tempuh.


Peran IQ, EQ, dan SQ pada Kesuksesan

kesuksesan seseorang tidak hanya ditentukan oleh kemampuan otak dan daya pikir semata, malah lebih banyak ditentukan oleh kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ). Tentunya ada yang salah dalam pola pembangunan SDM selama ini, yakni terlalu mengedepankan IQ, dengan mengabaikan EQ dan SQ. Oleh karena itu kondisi demikian sudah waktunya diakhiri, di mana pendidikan harus diterapkan secara seimbang, dengan memperhatikan dan memberi penekanan yang sama kepada IQ, EQ dan SQ.
Pendidikan sekolah bukan lagi satu-satunya tumpuan keberhasilan seseorang dalam meraih kebahagiaan. Sistem pendidikan yang dikenal selama ini hanya menekankan pada nilai akademik, kecerdasan otak saja. Siswa dituntut belajar mulai sekolah dasar hingga perguruan tinggi sekedar supaya memeroleh nilai bagus yang dapat dijadikan bekal mencari pekerjaan. Kecerdasan IQ ditengarai tidak berjalan seimbang dengan dua kecerdasan lainnya, yakni kecerdasan emosi dan kecerdasan spiritual. Di sisi lain, dijumpai kekerasan dan penyimpangan perilaku. Keahlian dan pengetahuan saja tidaklah cukup, perlu ada pengembangan kecerdasan emosi, seperti inisiatif, optimis, kemampuan beradaptasi. EQ dengan garis hubung antara manusia dengan manusia yang lain. Sedangkan SQ, hubungan manusia dengan Tuhan. Tiga kecerdasan tersebut tidak bisa dipisahkan. Ketika seseorang berhasil meraih kesuksesan dengan memaksimalkan IQ dan EQ, seringkali ada perasaan hampa dalam kehidupan batinnya, karena mereka tidak memuat SQ.
Peran IQ, EQ, dan SQ diantaranya dapat meningkatkan motivasi karyawan dalam bekerja. Bahkan bisa merubah budaya ketidakdisplinan menjadi disiplin dan meningkatkan rasa tanggung jawab karyawan terhadap perusahaan tempat ia bekerja. Metodologi training yang diterapkan akan menuntun peserta membangkitkan 7 nilai dasar, yakni kejujuran, keadilan, kedisiplinan, tanggung jawab, visioner, kerjasama, dan kepedulian. Tujuh nilai dasar itu sebenarnya sudah ada dalam diri manusia. Sehingga melalui pelatihan akan menghasilkan peningkatan secara berkesinambungan dan berkelanjutan seumur hidup.
Kecerdasan merupakan salah satu anugerah besar dari Allah SWT kepada manusia, gunakanlah kecerdasan itu dengan sebaik-baiknya dalam hal kebajikan. Sebagai pendidik (calon pendidik), dalam mewujudkan diri sebagai pendidik yang profesional dan bermakna, tugas kemanusiaan kita adalah berusaha membelajarkan para peserta didik untuk dapat mengembangkan segenap potensi (fitrah) kemanusian yang dimilikinya, melalui pendekatan dan proses pembelajaran yang bermakna (SQ), menyenangkan (EQ) dan menantang atau problematis (IQ), sehingga pada gilirannya dapat dihasilkan sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas baik dari otak maupun hatinya.Untuk menjadi seorang pribadi yang sukses kita harus mampu menggabungkan dan mensinergikan IQ, EQ, dan SQ. Ilmu tanpa hati adalah buta, sedangkan ilmu tanpa hati dan jiwa adalah hampa. Ilmu, hati, dan jiwa yang bersinergi itulah yang memberikan makna.


Penerapan IQ, EQ, dan SQ dalam Kehidupan

Sekarang ini kebanyakan manusia menganggurkan kecerdasan yang mereka miliki. Punya mata hanya untuk melihat tetapi tidak untuk memperhatikan, punya perasaan hanya untuk merasakan tetapi tidak untuk menyadari, punya telinga hanya untuk mendengar tetapi tidak untuk mendengarkan dan seterusnya. Oleh sebab itu, berbagai kecerdasan yang dimiliki haruslah dipergunakan dengan sebaik-baiknya dan jangan sampai disia-siakan.
IQ, EQ, dan SQ bisa digunakan dalam mengambil keputusan tentang hidup kita. Seperti yang kita alami setiap hari, keputusan yang kita buat berasal dari berbagai proses, diantaranya:
a. Merumuskan keputusan.
b. Menjalankan keputusan tersebut.
c. Menyikapi hasil pelaksanaan keputusan itu.
Rumusan keputusan itu seyogyanya didasarkan pada fakta yang kita temukan di lapangan realita (apa yang terjadi), bukan berdasarkan pada kebiasaan atau preferensi pribadi suka atau tidak suka.
Kita bisa menggunakan IQ yang menonjolkan kemampuan logika berpikir untuk menemukan fakta obyektif, akurat, dan untuk memprediksi resiko, melihat konsekuensi dari setiap pilihan keputusan yang ada. Rencana keputusan yang hendak kita ambil merupakan hasil dari penyaringan logika, juga tidak bisa begitu saja diterapkan, semata-mata demi kepentingan dan keuntungan diri kita sendiri. Bagaimana pun, kita hidup bersama dan dalam proses interaksi yang konstan dengan orang lain. Oleh sebab itu, salah satu kemampuan EQ, yaitu kemampuan memahami (empati) kebutuhan dan perasaan orang lain menjadi faktor penting dalam menimbang dan memutuskan. Kemudian dengan SQ kita dapat menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, serta untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup apa yang lebih bermakna supaya tidak sia-sia.
Banyak fakta dan dinamika dalam hidup ini yang harus dipertimbangkan. Kita pun sering menjumpai kenyataan, bahwa faktor human touch, turut mempengaruhi penerimaan atau penolakan seseorang terhadap kita (perlakuan kita, ide-ide atau bahkan bantuan yang kita tawarkan pada mereka). Salah satu contoh kongkrit, di Indonesia, budaya “kekeluargaan” sangat kental mendominasi dan mempengaruhi perjanjian bisnis, atau bahkan penyelesaian konflik. Ini merupakan salah satu pengaplikasian orang yang menggunakan IQ, EQ dan SQ dalam mengambil keputusan.
Perlu diakui bahwa IQ, EQ dan SQ adalah perangkat yang bekerja dalam satu kesatuan sistem yang saling terkait (interconnected) di dalam diri kita, sehingga tak mungkin juga kita pisah-pisahkan fungsinya. Berhubungan dengan orang lain tetap membutuhkan otak dan keyakinan sama halnya dengan keyakinan yang tetap membutuhkan otak dan perasaan. Meskipun keputusan yang dibuat harus berdasarkan pengetahuan dan keyakinan sekuat batu karang, tetapi dalam pelaksanaannya, perlu dijalankan se-fleksibel orang berenang.
Aplikasi keputusan dengan IQ, EQ, dan SQ ini hanyalah satu dari sekian tak terhitung cara hidup, dan seperti kata Bruce Lee, strategi yang paling baik adalah strategi yang kita temukan sendiri di dalam diri kita. “Kalau kamu berkelahi hanya berpaku pada penggunaan strategi yang diajarkan buku di kelas, namanya bukan berkelahi (tetapi belajar berkelahi)”.
Kecerdasaan Intelektual ( IQ ) anak telah ditumbuh kembangkan di sekolah, misalnya melatih keterampilan teknis dan pengetahuan ilmiah anak. Lalu, bagaimana dengan EQ dan SQ ?
 Melatih Kecerdasan Emosi Anak
Kini orang tua semakin peduli dengan karakter anak. Para orang tua semakin sadar dan yakin bahwa keberhasilan anak tidak lagi cukup dengan ketrampilan teknis dan pengetahuan ilmiah, namun juga dengan kemampuan pengendalian diri dan hidup bermasyarakat.
Secara garis besar ada dua hal utama dalam kecerdasan emosi, yaitu :
1. Mengenalkan dan mengajarkan berbagi jenis emosi kepada anak
Tips sederhana dalam mengajarkan kecerdasan emosi adalah dengan sering menyebutkan berbagai jenis emosi kepada anak. Misalnya anak sedang cemberut, maka sebagai orang tua kita dapat menegaskan situasi emosi tersebut kepada anak, misalnya dengan menanyakan, “Adik cemberut, apa sedang kesal? Adik kesal apa karena Ibu melarang nonton TV?” Dengan demikian anak dipandu untuk terbiasa mengenali kondisi emosi dirinya dan penyebab munculnya emosi itu.
2. Mengelola emosi
Setelah anak tersebut tahu berbagai macam emosi yang ada pada diri seseorang, langkah selanjutnya adalah mengajarkan kepada anak bagaimana mengelola emosi tersebut.
Tips sederhana untuk mengelola emosi adalah Ketika orang tua marah, sedih, bingung, kesal, gembira, dan situasi emosi lainnya, orang tua juga perlu menyampaikan alasannya. Misalnya, seorang anak bermain dan tidak membereskan mainannya setelah selesai, sang Ibu bisa berkata, “Adik, Ibu sangat kesal melihat mainan yang berantakan, karena Ibu menjadi repot membereskannya. Ibu akan senang kalau Adik membantu Ibu membereskan mainan sendiri.” Dengan pernyataan itu sang anak akan belajar mengenali situasi emosi ibunya (kesal), sebab munculnya (mainan berantakan), dan mengapa sebab tersebut menyebabkan munculnya emosi tertentu (kesal karena repot membereskannya). Perlu ditunjukkan ekspresi yang sesuai dengan emosi saat melatih anak kecil (kalau kesal ya jangan tersenyum, namun tunjukkan wajah serius dan cemberut). Semakin dewasa nanti semakin mungkin menyampaikan emosi dengan ekspresi yang berlawanan misalnya dalam bentuk sindiran (kesal, namun tersenyum).
Apabila anak sedari dini usia telah sering dilatih untuk peka dalam mengenali emosi, maka semakin dewasa akan semakin mudah mengenali emosi, dan akhirnya dapat menyesuaikan sikapnya dengan situasi emosi yang ada.
 Melatih Kecerdasan Spiritual Anak
Jika anak balita memiliki SQ paling tinggi, dia jujur mengungkapkan sesuatu beradsarkan apa yang ada di lubuk hatinya. Bila tak suka, anak balita akan bilang tak suka, tak memanipulasi jawabannya. Sejalan bertambahnya usia, SQ akan menurun, karenanya orangtua harus terus mengajarkan anak untuk mengembangkan SQ-nya, misal mengajarkan anak bahwa kakak menolong adik bukan karena dilandasi kewajibannya sebagai kakak semata, namun dilandasi nilai kasih sayang pada adik.
Kemampuan IQ tinggi dengan dibarengi EQ belum cukup jika tidak dibarengi oleh SQ. Misalnya pada kasus mengejar uang dan jabatan dengan cara mengabaikan apakah intelektual dan emosi yang digunakan telah menyingggung atau merugikan orang lain.
Pakar Sosilog anak DR Howard Gardner dalam riset yang dilakukannya mendapati adanya kecerdasan anak yang majemuk. Dalam kesimpulannya, tidak ada anak bodoh dan pintar. "Yang ada anak yang menonjol dalam salah satu atau beberapa jenis kecerdasan" ujarnya.Sikap dan pengetahuan orangtuanyalah yang menentukan apakah potensi kecerdasan anak akan berkembang atau justru padam.


Keseimbangan IQ, EQ dan SQ dalam Perspektif Islam

Keseimbangan IQ, EQ dan SQ dalam Perspektif Islam

Kecerdasan intelektual adalah kemampuan intelektual, analisa, logika dan rasio. Berfikir adalah media untuk menambah perbendaharaan/khazanah otak manusia. Manusia memikirkan dirinya, orang-orang di sekitarnya dan alam semesta. Dengan daya pikirnya, manusia berupaya mensejahterakan diri dan kualitas kehidupannya. Pentingnya mendayagunakan akal sangat dianjurkan oleh Islam. Tidak terhitung banyaknya ayat-ayat al-Qur'an dan Hadis Rasulullah SAW yang mendorong manusia untuk selalu berfikir dan merenung. Redaksi al-Qur'an dan al-Hadis tentang berfikir atau mempergunakan akal cukup variatif. Ada yang dalam bentuk khabariah, insyaiyah, istifham inkary. Semuanya itu menunjukkan betapa Islam sangat concern terhadap kecerdasan intelektual manusia. Manusia tidak hanya disuruh memikirkan dirinya, tetapi juga dipanggil untuk memikirkan alam jagad raya. Dalam konteks Islam, memikirkan alam semesta akan mengantarkan manusia kepada kesadaran akan ke-Mahakuasaan Sang Pencipta (Allah SWT). Dari pemahaman inilah tumbuhnya Tauhid yang murni ."Agama adalah akal, tidak ada agama bagi orang yang tidak berakal" hendaknya dimaknai dalam konteks ini.
Kecerdasan emosional adalah kemampuan merasakan, memahami dan secara efektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi, informasi koneksi dan pengaruh yang manusiawi. Dapat dikatakan bahwa EQ adalah kemampuan mendengar suara hati sebagai sumber informasi. Kecerdasan emosional mengajarkan tentang integritas kejujuran komitmen, visi, kreatifitas, ketahanan mental kebijaksanaan dan penguasaan diri. Dalam bahasa agama , EQ adalah kepiawaian menjalin "hablun min al-naas". Pusat dari EQ adalah "qalbu". Keharusan memelihara hati agar tidak kotor dan rusak, sangat dianjurkan oleh lslam. Hati yang bersih dan tidak tercemar lah yang dapat memancarkan EQ dengan baik. Di antara hal yang merusak hati dan memperlemah daya kerjanya adalah dosa. Oleh karena itu ayat-ayat al-Qur'an dan Hadis Rasulullah SAW banyak bicara tentang kesucian hati.
kecerdasan spiritual merupakan kemampuan untuk memberi makna ibadah terhadap setiap perilaku dan kegiatan, melalui langkah- langkah dan pemikiran yang bersifat fitrah dalam upaya menggapai kualitas dan ikhlas. Kalau EQ berpusat di hati, maka SQ berpusat pada "hati nurani" (Fuad/dhamir). Mengacu kepada paparan di atas, dapat ditegaskan bahwa Islam memberikan apresiasi yang tinggi terhadap SQ. Tinggal lagi bagaimana manusia memelihara SQ-nya agar dapat berfungsi optimal.
Oleh karena Islam memberikan penekanan yang sama terhadap " hablun min Allah " dan "hablun min al-naas ", maka dapat diyakini bahwa keseimbangan IQ, EQ dan SQ merupakan substansi dari ajaran Islam. Jika selama ini orang Islam sadar atau tidak, turut mengagungkan dan memberi penekanan terhadap pendidikan akal dengan mengenyampingkan pendidikan hati dan hati nurani berarti orang Islam telah mengabaikan semangat dan ajaran agamanya.
keseimbangan IQ, EQ dan SQ merupakan substansi dari ajaran Islam. Dengan IQ, manusia disuruh berfikir untuk hal yang positif, memikirkan kekuasaan Allah sehingga dapat mensyukurinya. Dengan EQ, manusia harus memelihara hati agar tidak kotor dan rusak, serta bersifat terpuji. Dengan SQ, manusia harus menempatkan perilaku dan hidupnya dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, mampu menilai bahwa tindakan mana yang bermanfaat dan tidak menimbulkan kemaksiatan.


IQ, EQ, dan EQ ???!! Apaan sih?

IQ , EQ , dan SQ

Kecerdasan yang paling utama dimiliki manusia adalah Kecerdasan Intelektual (IQ), Kecerdasan Emosional (EQ), dan Kecerdasan Spiritual (SQ). Berikut penjelasan secara rinci tentang kecerdasan-kecerdasan tersebut.

 Intelligent Quotient ( IQ )
1. Pengertian
Kecerdasan Intelektual atau Inteligensi adalah kemampuan potensial seseorang untuk mempelajari sesuatu dengan menggunakan alat-alat berpikir. Kecerdasan ini ditemukan pada tahun 1912 oleh William Stem yang digunakan sebagai pengukur kualitas seseorang. Kecerdasan ini terletak di otak bagian Cortex (kulit otak ). Kecerdasan ini adalah sebuah kecerdasan yang memberikan kita kemampuan untuk berhitung, beranalogi, berimajinasi, dan memiliki daya kreasi serta inovasi.
Ada dua faktor inteligensi yang terdapat pada seseorang, yaitu :
 General Ability
Kemampuan yang terdapat pada semua individu tapi dengan tingkatan yang berbeda satu sama lainnya.
 Special Ability
Kemampuan yang berkaitan dengan bidang tertentu.

2. Klasifikasi Inteligensi
a). Tes Inteligensi
Untuk mengetahui IQ (Intelligence Quotient) seseorang, dilakukan tes inteligensi. Tes inteligensi menghasilkan IQ. IQ menggambarkan tingkat inteligensi. Cara penentuan IQ adalah berdasar CA (chronological age, usia kronologis) dan MA (mental age, umur mental). MA adalah skor mentah yang diperoleh berdasar tes inteligensi.
b). Inteligensi rata-rata orang
Inteligensi sebagian besar orang tergolong average (rata-rata). Mereka dapat memperoleh penjelasan yang rasional. Dalam keadaan sakit, kecerdasan orang tak dapat berfungsi penuh. Perlu petunjuk yang praktis, tanpa penafsiran yang macam-macam. Banyak yang mempengaruhi intelegensi, antara lain: amnesia (lupa terhadap pengetahuan masa lalu). Orang yang kecelakaan dimungkinkan untuk menurun inteligensinya serta stroke juga mempengaruhi inteligensi seseorang.

 Emotional Quotient ( EQ )
Kecerdasan emosi adalah kapasitas, kemampuan, dan ketrampilan untuk menangkap atau menilai serta mengendalikan emosi diri sendiri, orang lain, dan kelompok. Akan tetapi, definisi akurat kecerdasan emosi masih merupakan rahasia yang belum terungkap dan masih berubah-ubah. Kecerdasan emosi merupakan suatu bangunan yang tersusun atas lima dimensi. Kelima dimensi itu adalah pengetahuan, pengelolaan hubungan, motivasi diri, empati dan pengendalian perasaan atau emosi. Kecerdasan ini di otak berada pada otak belakang manusia. Kecerdasan ini memang tidak mempunyai ukuran pasti seperti IQ, namun kita bisa merasakan kualitas keberadaannya dalam diri seseorang. Oleh karena itu EQ lebih tepat diukur dengan feeling.
Kecerdasan emosi penting untuk menangani situasi yang bermuatan emosi, suatu kondisi yang sering terjadi. Ini barangkali adalah bagian yang paling sulit dalam pengembangan kecerdasan seseorang. Muatan dari emosi negatif serta dampak dari kepercayaan diri, keberanian, dan kejujuran dapat diperoleh denganbaik melalui kecerdasan emosi. Keterampilan mengembangkan dan memanfaatkan kecerdasan emosi akan membentuk seperangkat kemampuan pokok yang mempengaruhi banyak isu bisnis yang vital bagi sensasi individu serta keberhasilan organisasi. Kecerdasan emosi merupakan faktor yang paling jelas mengatur pola kehidupan. Kecerdasan ini penting dalam pengelolaan emosi yang diperlukan untuk dapat membangun pola yang berhasil. Pengembangan kecerdasan emosi sangat penting bagi keberhasilan tingkah laku dan organisasi. Kecerdasan emosi merupakan penentu dalam pembentukan serta keberhasilan hubungan di masyarakat. Kecerdasan ini juga dapat menghilangkan perasaan takut, cemas, dan marah yang menghambat dalam pengendalian emosi.
Kompetensi utama kecerdasan emosi yang membuat seseorang memiliki kepribadian yang utuh adalah sebagai berikut.
1. Kesadaran-diri emosional
seberapa jauh kita mampu mengenali perasaan sendiri.
2. Ekspresi emosional
kemampuan mengekspresikan perasaan dan naluri.
3. Kesadaran akan emosi orang lain
kemampuan mendengarkan, merasakan atau mengintuisikan perasaan orang lain dari kata, bahasa tubuh, maupun petunjuk lain.
4. Kreativitas
berhubungan dengan berbagai sumberdaya non-kognitif yang dapat membantu menyalurkan ide baru, menemukan solusi alternatif dan cara efektif melakukan sesuatu.
5. Kegigihan/fleksibilitas/adaptabilitas
ulet dan tetap berhasrat serta berharap walaupun ada halangan.
6. Hubungan antarpribadi
menciptakan dan mempertahankan hubungan dengan orang-orang yang bersama kita supaya menjadi
realitas yang utuh.
7. Ketidakpuasan konstruktif
kemampuan tetap tenang dan
fokus dengan emosi yang tidak meningkat sekalipun dalam perselisihan.
8. Wawasan/ Optimisme
berpikir positif dan optimistik.
8. Belas kasihan/ empati
kemampuan berempati dan menghargai perasaan orang lain.
9. Intuisi
kemampuan mengenali, mempercayai, dan menggunakan perasaan kuat yang muncul dari dalam, serta respons kognitif lain yang dihasilkan oleh indera, emosi, pikiran, dan tubuh.
10. Kesengajaan
mengatakan apa maksud dan tekad untuk melaksanakan apa yang kita katakan; bersedia tahan terhadap gangguan dan godaan agar dapat bertanggung jawab atas segala tindakan dan sikap.
11. Radius kepercayaan
mempercayai bahwa seseorang itu “baik”, namun tidak juga terlalu mempercayai seseorang.
12. Kekuatan pribadi
yakin dapat menghadapi segala tantangan dan hidup sesuai dengan pilihan.

 Spiritual Quotient ( SQ )
1. Pengertian
Kata spiritual memiliki akar kata spirit yang berarti roh. Kata ini berasal dari bahasa Latin, spiritus, yang berarti napas. Roh bisa diartikan sebagai energi kehidupan, yang membuat manusia dapat hidup, bernapas dan bergerak. Spiritual berarti pula segala sesuatu di luar fisik, termasuk pikiran, perasaan, dan karakter kita.
Kecerdasan spiritual berarti kemampuan seseorang untuk dapat mengenal dan memahami diri seseorang sepenuhnya sebagai makhluk spiritual maupun sebagai bagian dari alam semesta. Dengan memiliki kecerdasan spiritual berarti bisa memahami sepenuhnya makna dan hakikat kehidupan yang kita jalani dan ke manakah kita akan pergi.
Kecerdasan spiritual diyakini sebagai kecerdasan yang paling utama dibandingkan dengan berbagai jenis kecerdasan yang lain. Kecerdasan Spiritual (SQ) adalah Kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna atau value, yaitu Kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain.
Kecerdasan spiritual adalah kemampuan untuk memberi makna ibadah terhadap setiap perilaku dan kegiatan, melalui langkah-langkah dan pemikiran yang bersifat fitrah, menuju manusia yang seutuhnya (hanif) dan memiliki pola pemikiran tauhidi (integralistik), serta berprinsip “hanya karena Allah”. Kecerdasan spiritual melintasi batas agama (religion). Meski demikian, pemaknaan yang mendalam dan lurus terhadap agama yang dianut akan menjadi landasan yang kuat bagi tumbuh dan berkembangnya suara hati dalam diri manusia.
2. Ciri-ciri SQ Tinggi
Zohar dan Marshall memberikan gambaran bagaimana tanda-tanda orang yang memiliki SQ tinggi, yaitu :
a) Kemampuan bersikap fleksibel (adaptif secara spontan dan aktif).
b) Tingkat kesadaran yang tinggi.
c) Kemampuan menghadapi dan memanfaatkan penderitaan.
d) Kemampuan untuk menghadapi dan melampaui rasa takut.
e) Kualitas hidup yang diilhami oleh visi dan nilai-nilai.
f) Keengganan untuk menyebabkan kerugian yang tidak perlu.
g) Kecenderungan untuk melihat keterkaitan antara berbagai hal (berpandangan holistik).
h) Kecenderungan nyata untuk bertanya: “mengapa?” atau “bagaimana jika?” untuk mencari jawaban yang mendasar
i) Pemimpin yang penuh pengabdian dan bertanggungjawab.
j) Kemampuan menghayati keberadaan Tuhan.
k) Memahami diri secara utuh dalam dimensi ruang dan waktu
l) Memahami hakekat di balik realitas.
m) Menemukan hakikat diri
n) Tidak terkungkung egosentrisme.
o) Memiliki rasa cinta.
p) Memiliki kepekaan batin.
q) Mencapai pengalaman spiritual: kesatuan segala wujud, mengalami realitas non-material (dunia gaib).


Kecerdasan

Kecerdasan

 Pengertian Kecerdasan
Kecerdasan merupakan salah satu anugerah besar dari Allah SWT kepada manusia dan menjadikannya sebagai salah satu kelebihan manusia dibandingkan dengan makhluk lainnya. Dengan kecerdasannya, manusia dapat terus menerus mempertahankan dan meningkatkan kualitas hidupnya yang semakin kompleks, melalui proses berfikir dan belajar secara terus menerus. Dalam hal ini, sudah sepantasnya manusia bersyukur, meski secara fisik tidak begitu besar dan kuat, namun berkat kecerdasan yang dimilikinya hingga saat ini manusia ternyata masih dapat mempertahankan kelangsungan dan peradaban hidupnya.
Lantas, apa sesungguhnya kecerdasan itu ? Sebenarnya hingga saat ini para ahli pun tampaknya masih mengalami kesulitan untuk mencari rumusan yang komprehensif tentang kecerdasan. Dalam hal ini, C.P. Chaplin (1975) memberikan pengertian kecerdasan sebagai kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara cepat dan efektif. Sementara itu, Anita E. Woolfolk (1975) mengemukan bahwa menurut teori lama, kecerdasan meliputi tiga pengertian, yaitu :
(1) kemampuan untuk belajar;
(2) keseluruhan pengetahuan yang diperoleh;
(3) kemampuan untuk beradaptasi dengan dengan situasi baru atau lingkungan pada umumnya.

 Faktor-faktor yang mempengaruhi kecerdasan
Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kecerdasan, diantaranya :
1. Lingkungan
2. Biologis
3. Budaya
4. Bahasa
5. Masalah Etika




 Macam-macam Kecerdasan
Menurut Thomdike, kecerdasan manusia terbagi menjadi tiga, yaitu :
 Kecerdasan Abstrak : Kemampuan memahami simbol matematika atau bahasa.
 Kecerdasan Konkret : Kemampuan memahami objek nyata.
 Kecerdasan Sosial : Kecerdasan untuk memahami dan mengelola hubungan manusia yang dikatakan menjadi akar istilah kecerdasan emosional.
Charles Handy menyebutkan bermacam-macam kecerdasan, diantaranya : Kecerdasan Logika (menalar dan menghitung), Kecerdasan Praktek (kemampuan mempraktekkan ide), Kecerdasan Verbal (bahasa komunikasi), Kecerdasan Musik, Kecerdasan Intrapersonal (berhubungan ke dalam diri), Kecerdasan Interpersonal (berhubungan ke luar diri dengan orang lain) dan Kecerdasan Spasial.
Pakar Psikologi Howard Gardher dan Associates mengatakan bahwa bermacam-macam kecerdasan manusia diantaranya : Kecerdasan Visual / Spasial, Kecerdasan Natural (kemampuan untuk menyelaraksan diri dengan alam), atau Kecerdasan Linguistik (kemampuan membaca, menulis, berkata-kata), Kecerdasan Logika (menalar atau menghitung), Kecerdasan Kinestik / Fisik (kemampuan mengolah fisik seperti penari, atlet, dll), Kecerdasan sosial yang dibagi menjadi Intrapersonal dan Interpersonal.


Jumat, 20 November 2009

Perjalanan tak berujung!! Mudik sendirian?? Kesasarrrr...!!!

Krik…krik…krik..
Rasanya sudah sejam aku mondar-mandir dikamar ini, padahal baru sekitar lima menitan. Wuzz… Angin meniupku ketika aku berjalan ke kamar mandi, jilbabku tersibak. Sesampai di kamar mandi, upsss…aernya entong!! Uh… yaudah, aku cuma gosok gigi plus cuci muka aja. Kembali ke kamar, ambil baju ganti. Terus kembali ke kamar mandi, ganti baju. Udah selesai. Balik lagi ke kamar. Ndeprok. Berdiri lagi. Diluar sana hujan deres…! Di dalam sisi aku kebingungan. Pengen mudik sih, tapi.. Hmmm, udah jam tiga lebih beberapa menit. Hari ini tak seperti biasanya, aku yang biasanya mudik nebeng masku, sekarang ga’ bisa, soalnya dia hari ini ga’ berangkat kuliah. Lantas…aku disuruh pulang sendiri. What???!! Ga’ ada tebengan ke wates! Jadi, aku harus melakukan sesuatu yang sama sekali belum pernah kulakukan. What’s it?? NgeBis!!!! Oke, aku harus membulatkan tekadku untuk memijakkan kakiku di dalam bis. Tapi… Apa aku bisa? Apa aku berani? Gimana kalo aku nanti kesasar? Gimana kalo aku ilang? Huss…pikiranku aneh-aneh. Secara aku belum pernah ngebis sendirian.. Jangankan dari joga sampe wates.. Lha dari alun-alun wates sampe rumahku tawangsari aja aku ga’ berani naek angkot. Bayangkan betapa takutnya aku untuk memulai perjalanan ini. Huh. Beberapa menit kemudian, hujan sedikit reda, masih gerimis sih. Aku udah siap. Tinggal pake sepatu aja. Di depan kamar aku ndeprok lagi. Rasanya bimbang banget. Antara melanjutkan perjalanan atau kembali ke kamar dan tidur. Tulilit tulilit…hapeku berbunyi. “Dhek, ngko nek wis terang sms yo..” sms dari masku. Yaps…dia mau njemput aku. Hmm…setelah dipikir-pikir, aku putuskan untuk melanjutkan perjalanan dengan mengantongi uangku yang tinggal sebelas ribu rupiah. Batinku, ini akan jadi pengalaman ngBis pertamaku, plus aku akan bikin kejutan buat orang rumah. Hehee. Ambil payung. Lanjutkan!
Tiba di depan maskam UGM, tempat dimana kata dia disitu tempat buat ngadang bis. Di nyuruh aku naek bis jalur 15 sampe Gamping, trus ke watesnya bisa naek jogja-wates atau bis gedhe patas gitu. Oke. Aku lakukan. Nunggu bis. Penuh kekhawatiran yang luar biasa. Ga’ lama aku berdiri di situ, bis jalur 15 datang, aku naek. Fiuuhhh…aku duduk terdiam di dekat jendela. Apa yang akan saya lakukan? Diam. Aku masih dipenuhi rasa was-was. Kuputuskan untuk menenangkan hati, aku baca al-ma’surat aja. Udah selesai satu kali, aku ulangi lagi dari depan. Belum juga sampai di tengah bacaan, si kenek njawil-njawil aku, oia…aku belum mbayar ya. Ops. 2500 melayang ke tangannya. Udah agak ga’ mood lagi buat nglanjutin baca al-ma’surat. Aku smsan sama si dia yang jadi petunjuk arahku. Haduh…tiba-tiba perutku mules. Tolelelet eolelelett…Ibuku telpon, beliau bilang kalo mas rendy bakalan njemput. Ops… Aku bilang aja ga’ usah di jemput sekarang soalnya masih hujan deres. Trus aku putus telponnya. Hmm… aku kan pengen kasih kejutan. Tolelelettt… ibuku telpon lagi, beliau Tanya sekarang aku ada dimana, ya aku ga’ bisa boong lah. Aku bilang aku dah di dalam bis. Hehee. Haduh, ga’ jadi bikin kejutan dong nih.. Ah. Hiks.hiks. Dalam kegelisahan dalam batinku membaca surah al-fatihah. Terus aja kaya’ gitu. Hingga akhirnya aku melihat tulis gamping gamping gamping di pinggir jalan. Hmm…aku bingung aku harus turun dimana. Kata dia ntar si kenek bakalan teriak-teriak gamping gamping gitu, trus aku turun. Tapi sedari tadi si kenek diem aja. Aku kan ga’ ngerti jalan, ntar kalo aku turun disini trus aku salah jalan gimana? Aku bingung. Hmm…bis berhenti, semua penumpang turun, kecuali aku yang masih sok cool dalam kebimbangan. Huh… ah ikut-ikutan turun aja lah. Bismillah, aku turun. Hup.
Hujan masih deres. Mmmm…kata dia aku suruh nyebrang ke selatan, trus car ibis ke wates. Lhah…aku kan turun di pertigaan, aku ga’ ngerti mana utara selatan barat timur, yang kutau cuma atas bawah. Aku lari lari kecil nyebrang ke tempat yang teduh. Ga’ tau meski ngapain. Tiba-tiba aja ada bis jogja-wates berhenti di depanku, aku langsung naik tanpa berpikir panjang lagi. Hehee. Setelah beberapa menit aku duduk di deket jendela, aku terbengong-bengong, tadi kan jalan wates km 5, harus nya km nya semakin gedhe, tapi kok ini semakin kecil. Opsss…. Ya Allah… aku salah arah. Hrusnya tu aku nyebrang ke sisi yang lain, bukan kesitu tadi. Ini mah aku kembali ke jogja. Haduh… Mau turun tapi dah terlanjur jauh aku berjalan, aku kan ga’ ngerti jalan. Hiks.hiks. Aku cuma bisa nahan perutku yang semakin mules. Sambil smsan ma si dia, ngadu ke dia kalo aku kesasar. Dia panik juga. Rinda…rinda.. Rinda kok o’on gini ya, batinku. Aku juga sms masku, bilang kalo aku salah arah. Hahaa. Dalam kegelisahan yang dahsyat ini aku masih mencoba buat ketawa. Sampai di terminal Giwangan. Semua penumpang turun. Tinggal aku yang polos tengak-tengok kanan kiri, semua turun, haruskah aku turun? Hiks. Aku ga’ ngerti. Dhek, mau kemana? Tanya bapak tua yang ada di sudut sana. Wates,pak. Jawabku singkat dengan dipenuhi rasa malu yang gueeedheee banget. Oooo.. jawab bapak itu. Membuatku semakin bingung, apa maksudnya? Terus aku Tanya lagi, bisa kan pak?? Beliau jawab, ya ntar ikut yang gamping aja, bisa. Hmmm…agak lega sih, tapi tetep aja ga’ ngerti apa maksudnya. Duhh..
Tataraaaa…. Bis puter-puter jalan yang ga’ aku mengerti. Ternyata aku sampai di tempat yang tadi dimana aku turun dari bis jalur 15. Semua turun lagi. Hiks.Hiks. Aku turun ga’ ya..? Si bapak tadi njawil aku, Dhek mau ke wates kan, turun disini terus naik bis yang itu lho yang di depan yang warna biru jogja-wates. Oooo….gitu to.. Ya,pak.. Matur nuwun,pak.. Hup. Aku turun. Masih gerimis, Lari-lari kecil ke bis yang dimaksud bapak tadi. Di depan bis ada bapak-bapak yang teriak Wates-wates gitu. Wowww… seakan aku mendapat barokah, mataku berbinar-binar. Dengan semangat 45 aku naik bi situ, duduk di deket jendela lagi. Liat tetes-tetes hujan di luar sana. Hmm.. Alhamdulillah..batinku. Bis melaju. Waktu dah menjelang maghrib. Dalam bis gelap, ga; ada lampu. Aku ga’ bisa baca al-ma’surat lagi. Yah.. aku cuma bisa melafalkan al-fatihah, kali ini ga’ lagi dalam hati, ini benar-benar aku lafalkan pelan-pelan, sebagai wujud syukurku. Hmm…
Sampai sentolo. Aku sms orang rumah, meyakinkan bahwa aku tidak hilang. Hahahahaa.. Aku seneng bangettt.. Aku lanjutin baca al-fatihah sambil senyam-senyum, ga’ peduli apa yang diobrolin para penumpang yang berisik itu. Aku cengar-cengir, kadang juga senyum sendirian sambil melongok keluar. Bodo’ amat lah, disini kan gelap, ga’ keliatan aku ngapain, apalagi aku kan kulitnya gelap, jadi enjoy aja. Hehee…
Turun di depan terminal wates. Menghela nafas panjang. Syukurku tak henti. Aku seneeeeenggg banget, akhirnaya kau sampai wates juga. Aku sms masku, suruh njemput di depan rumah makan saiyo sapto. Aku jalan kaki sendirian dalam remang-remang lampu jalanan. Ada dua pria tengah baya yang menghampiriku sambil membawa motor dan mengulurkan helm ke arahku. “Dhek, kok dhewekan, arep nandi? Kene takterke” ucapnya. Mboten, matur nuwun. Huhhmmm aku ga’ ngerti lagi deh itu tukang ojek atau orang iseng atau apa. Huh. Ga’ lama aku duduk di tepi jalan depan rumah makan saiyo, masku datang sambil ketawa, ga’ salah lagi ngetawain adheknya yang hampir ilang. Hahaha. Aku ikutan ketawa juga. Disepanjang jalan aku ma dia Cuma ketawa-ketawa ga’ jelas gitu. Hahaa.
Sampai di rumah. Tataraaaaaaa….. mamak bapak aku tekan ngomah!!!! Aku teriak-teriak ga’ inget kalo itu dah menjelang isya’.. Udah kaya’ pemenang marathon tingkat internasional. Suheri banget… Sungguh heboh sendiri. Pokoknya kau seneng banget. Hari ini hari paling berkesan. Belum juga aku lepas sepatu, aku langsung ambil telpon, aku hubungi si dia yang sedari tadi nemenin aku dalam perjalanan hebohku. Tiga kali di telpon, ga’ diangakat. Ops… aku baru inget, dia kan sedang kenduri. Yaudah aku ganti baju dulu. Sekitas setengah jam kemudian aku telpon lagi, cerita panjaaaaangggg tentang kisahku tadi.. Hahaaa. Makasih ya mas…

Rabu, 18 November 2009

jeprat-jepret dulu






me and myKanca...

masa-masa menjadi maba... Luarbiasa! dasyat! pinjem kamera sampe lupa ga' belum dikembaliin.. Hehee.. Afwan..


makrab? sedikit foto ajah ya..





Haiii....
sepenggal poto-poto makrab jawa 09!!!
ni die kelas B yang puaaaallliiinggggg amburadul...
liat deh...!!
temukan aku disitu (jika ada)







Rabu, 11 November 2009

UTS PAI.... ohhh... via email??!!

MID SEMESTER MATA KULIAH PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

1. Definisi agama menurut pengalaman keberagamaan saya :
Berdasar pada pengalaman keberagamaan saya, terutama dalam perbandingan antara bergaul dengan sesama muslim dan bergaul dengan nonmuslim. Ketika beragul dengan mereka yang seiman dengan saya, saya merasakan suatu jalinan kebersamaan yang luar biasa. Hal ini wajar saja terjadi, karena kami dalam satu naungan, yaitu Islam. Meski acap kali saya temukan beberapa perbedaan prinsip ataupun ritual fisik di antara kami. Dan ketika saya bergaul dengan nonmuslim, saya juga merasakan kebersamaan, namun hanya terbatas sosial belaka, tidak pada peribadatan layaknya pergaulanku dengan sesama muslim. Dari sedikit pengalaman tersebut, saya mengartikan agama adalah suatu kepercayaan kita sebagai manusia kepada Sang Pencipta. Agama diyakini dalam hati, yang akan tampak pada ritual-ritual ibadah. Agama membawa kita pada suatu rasa nyaman dan kenikmatan yang luar biasa ketika kita bersama dengan mereka yang seagama dengan kita (disini ditekankan pada peribadatan).
2. Alasan mengapa manusia harus mengenal Allah :

Pepatah mengatakan bahwa “tak kenal maka tak sayang”. Hal itu berlaku pada kasus ini, jika kita tidak mengenal Allah maka kita pun tak bisa menyayangi Allah. Dan jika kita tidak mempunyai rasa sayang kepada Allah, maka kita pun tak akan mampu untuk menjalankan semua perintah-Nya dan mejauhi semua larangan-Nya. Dari uraian pendek ini, saya tarik kesimpulan : manusia harus mengenal Allah karena dengan begitu manusia akan mampu bertaqwa.
3. Arti penting penciptaan manusia :
Dalam surah Az-Zariat ayat 56 disebutkan bahwa :
“Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar supaya menyembah-Ku”.
Dari ayat tersebut jelaslah bahwa manusia diciptakan semata untuk beribadah. Dan semestinya harus dipahami lebih luas makna ibadah itu apa. Jika yang dimaksudkan ibadah adalah ritual rukun Islam semata (sahadat,solat jakat puasa, dan haji), maka niscaya makna ibadah dalam kontek penciptaan manusia di dunia ini mestilah sempit. Makna lain dalam penciptaan manusia adalah sebagai khalifah (pemimpin). Nah dalam konteks inilah manusia akan mempunyai fungsi penting yakni kehadirannya akan membawa rahmat bagi alam dan isinya, hanya jika manusia telah sesuai dengan fitrahnya dan telah sampai kepada jatidirinya atau esensinya manusia itu apa.


Love??

Love gives naught but itSelf and take naught but from itSelf.

Love prossesses not nor would be it be prossessed.
For love is susufficient into love

sepining dina iki

Sepining dina iki,
Apa marga kowe bali?
Sepining dina iki,
Ati rasa pati.

Wong sewu daketung siji.
Kabeh mau ora muni.
Sepining dina iki,
kapan aku bali?

polahe wong kang nandang tresna

Ingsun tansaya bingung
Apa kareping ati
Kang tansah kumantil samubarang endah
Landhep panggraita
namung awujud tetembungan
nora ana kanyatane

Tanggap cipta sasmita uga
Nandya Ingsun ngerteni
Iku dudu patrape satriyatama
Nanging ingsun nora ngerteni
apa kang dadi kareping ati
Pikir saha ati, kapan ta dadi siji??

Minggu, 25 Oktober 2009

Tentangku (part1)

Sekelumit tentangku,
Aku adalah aku. (iaaa iaalaaahhh…!)
Aku adalah seorang perempuan, anak kedua dari pasangan bapak N******n dan Ibu M*****i. Aku lahir di rumah sakit dengan cara vacum (dicomot githu deh… Alhasil kepalaku jadi ‘peang penjol’ gini) pada tanggal yang sangat bersejarah bagi Indonesia, tepat pada Hari Palang Merah Indonesia (kapan? Cari sendiri jawabannya). Yaa… bermodalkan tanggal lahir itu aku berharap aku bisa bekerja di bidang kesehatan (????!!). Setelah merasakan comotan dokter, akhirnya aku juga harus merasakan jarum suntik di kedua tangan dan kakiku. Dokter bilang itu namanya INFUS, ya infus. Atas ijin Allah aku masih bisa bernafas ampe detik ini. Ya, bapak pernah bilang ke aku kalo dulu pas aku lahir menurut dokter ada kemungkinan aku bakalan ‘go to akhirat’. Dan ampe sekarang aku belum pernah menanyakan ke ortuku apa penyebabnya. (heehe...)
Lepas dari masa balita, ibuku mempercayakan TK-A*******h sebagai tempat bermainku. SD M*******n menjadi wahana pelarianku dari TK itu. Bosan dengan acara antar-jemput, aku memutuskan untuk memasuki gerbang SMP * ****s. Kurang lebih 2 kilometer dari rumahku. Setaun kulalui bersama sepeda butut (itu sepeda ibuku ketika beliau masih di bangku smea), dan mulai kelas dua ditemani sepeda biru imut (pemberian bapak karena aku berhasil menjadi juara 1 paralel di skolahku. Hiihii). Kelulusan SMP terasa sedikit menyedihkan (kurang puas dengan juara dua. Hahahaaaa….). Ya, bermodalkan NEM yang paspasan aku mencoba mendaftar di SMA * ****s setelah puter-puter di sekian banyak SMA di daerah sini. Alhamdulillah aku diterima di SMA itu, yang notabene sekolah favorit (kata orang sih gitu….). Setelah diterima di situ pun aku juga harus ikut beberapa tes aneh untuk pendaftaran program ‘akselerasi’. Tes demi tes aku lalui tanpa beban , tanpa kestresan, tanpa keinginan untuk diterima di program yang masih lumayan asing bagiku saat itu,, ga’ terobsesi buat masuk program itu,. Semua ngalir gitu aja. Tak dinyana namaku ada dalam daftar siswa program akselerasi yang ditempel saat pengumuman itu. Setelah speak-speak ma ortu, aku putuskan untuk tidak mengundurkan diri (tanpa berpikir panjang tentang seluk beluk aksel). Akhirnya setelah berikrar di depan ortu dan kepala sekolah aku resmi menjadi ‘cah aksel’. Dan masih dengan kebego’anku, setiap ada orang yang ngasih selamat atau nyindir2 ga’ jelas gitu aku ngrasa aneh gitu, cuma bisa nyengir2 ga’ jelas . ini bukan sesuatu yang amazing menurutku, bukan sesuatu yang membanggakan menurutku, ga’ bangga kan dengan beban yang harus kubawa kesana-kemari. Jadi buat temen-temen, aku masih sama ma kalian kok… (hweeeehee..) . Orang bilang masa yang paling indah adalah masa SMA, tidak begitu berlaku bagiku. Masa SMA emang indah, tapi bukan yang terindah (untuk saat ini). Setelah mencicipi betapa stress nya aku dengan sekolahku, akhirnya aku menyelesaikan soal-soal ujian nasional bersama dengan teman-teman sekelasku dan kakak kelasku. Hanya tinggal menunggu pengumuman kelulusan besok tanggal 13 Juni 2009. Mudah-mudahan yang kuterima kelak adalah yang kuharap kini. Amin. Amin. Amin. (Mohon do’anya….).
[Maaf, banyak sensor, demi kemaslahatan umat.]
Oia…. Sambil nunggu pengumuman aku critain yang lain sekelumit kisahku yang lain ya…
Masa SMA kulalui masih bersama sepeda kijangbimut ku. (NB: bimut = BIru iMUT. Di deket pedal ada tulisan “INNOVA KIJANG”(kebalik ya? Harap maklum, ga’ pake ijin dari pihak yang bersangkutan. Tulisan itu kudapat dari pamanku yang bekerja di pabrik mobil gitu.) iaaa…..aku emang ga’ kaya sebagian besar temen2ku yang merengek-rengek minta motor, sedang aku menolak dibeliin motor ma bapakku. (Ma’ap ya Pak). Ssssttt…… rahasia kecil nih.. ampe saat ini aku belom pernah pake motor sendiri di jalan raya. (jadi muaaluuuu ni ma anak2 SD). Dulu aku pernah berlatih naek motor, pake punyaan kakakku. Bisa sih bisa (saat itu). Tapi lantaran jalan desa (nyalahin jalan), motornya ‘gegriul’ bebatuan gitu. GubraaaakkBrrrrrmmmmm………. (dudulnya aku, udah tau bakal jatoh malah ngeGas). Alhasil tu motor muter2 gitu, tapi aku ga’ papa cuma lecet dikit aja. Lagian, kupikir-pikir aku belom begitu perlu motor kok. Aku masih bisa pake kijangbimut ku, yang bebas polusi, gesit (bisa mblasak-mblasak), irit (bensin mahal siiiiihh, uangnya kan bisa buat bayar utang mamak di warung, hehee.. maap ya mak.), dan yang pasti sekalian olah raga, gitu. Semua ngalir aja… Besok aku kuliah pake apa?? Masih ada bis kan? Kalo bisa sih dapet kossan yang deket, biar bisa pake kijangbimut ato jalan kaki. Plus,, kalo bisa sih ketrima di fakultas yang disini, yang deket rumah gitu (4-5 kilo gitu dari rumah), kan enak tuh… (Ortu juga pengennya kaya’ gitu. Doain ya..)
Tteeettereeeetttt…. (Pergantian topik)
Kisah laennyaa..
Aku punya temen baru. Sebenernya sih ga’ baru, tapi baru-baru ini aku tau kalo dia tu temenku (aneh.). Gini lho..
Aku sering nyebut dia skoli. Ya, Allah mengirimkan dia untuk menemani hari-hariku. Dia datang padaku sejak 2 taun lalu. Awalnya aku cuek-cuek aja. Tapi lama kelamaan aku merasakan kehadirannya sangat mempengaruhi hari-hariku. Dan akhirnya aku mencoba mencari tau tentang dia, dan menceritakannya kepada kedua ortuku. Awal taun 2009 ini aku berkenalan dengannya. Ya, bukan nama yang asing bagiku, mungkin anak SD juga kenal. “Mbak, lihat bagian yang bengkok ini, ini namanya skoliosis. Belum ada obat penyembuhnya, tapi bisa diterapi untuk mencegah bertambahbengkoknya tulang punggung.” Itu yang dikatakan Dokter Agus seusai memeriksa dan melihat hasil rongent ku. Usahaku buat membendung air mata ga’ berhasil. Hukz. (cengeng. Di depan dokter, bapakku, + beberapa orang yang menunggu antrian, untuk sesaat aku lupa kalo aku adalah anak SMA yang berusia 16 taun). Taun baru yang indah. Setelah seharian aku kaya’ orang gila (nangis2 ga’ jelas di kamar, ga’ mau maem, ga’ mau mandi), akhirnya aku dapat menerima si skoli itu jadi temenku. Sekarang aku adalah skolioser (nama gaul buat penderita skoliosis. Keren kan?? Haaha). Sempat aku menjalani terapi akupunktur di Rumah Sakit dimana Dokter Agus praktek (satu-satunya rumah sakit di daerahku yang memberikan layanan akupunktur.) Tapi sekarang udah ga’ terapi lagi (cuma betah delapan kali terapi). Aku juga ga’ tau kenapa ortuku sekarang ga’ pernah lagi membawaku ke tempat terapi, mereka ga’ pernah lagi ngomongin tentang terapiku, aku juga ga’ pernah merengek2 minta terapi lagi. (Ya udah, skoliosis sih skoliosis, tapi ga’ usah lebai gitu. Derajat kurvanya masih ringan kok. Heehe). Sekarang aku rajin cari artikel ato cerita2 tentang skoliosis di internet, aku salut banget ma ceritanya Mbak Hanum yang dengan kekurangannya dia bisa mendapatkan kelebihan. Keren. Ajarin aku kaya’ gitu dong Mbak..) Pengen gabung di MSI, tapi kapan2 aja deh. Oia.. sebagian temen2ku udah tau tentang skoli ku, apa adanya gitu, kalo ditutup2in bisa bikin orang lain kecewa kan? Betul?? Udah ah, capek…
Bersambung…..

Oia.... tement tement, sebenernya tulisan ini udah aku buat beberapa bulan yang lalu, setelah aku tes SM 1 UNY. Tapi maaf, baru bisa diposting sekarang, lupa nyimpen filenya dimana. Hehee.. Ya kapan-kapan disambung lagi dengan ceritaku di perkuliahan UNY. Uke??

Ketika rasa itu datang menyapaku

Ketika rasa itu datang menyapaku,
Aku bimbang untuk berbuat apa,
Seakan tak ada benteng
Antara benar dan salah,
Antara baik dan buruk,
Dimana logika ini
Tak lagi kumengerti
ujung pangkalnya

.

Ketika rasa itu datang menyapaku,
Haruskah kubalas sapaan itu?
Sekedar tersenyum
Atau berkata suatu apa?

IAD. Ga' ada matahari?? Pluto bukan planet???!!

PERTANYAAN PERTAMA:
1. Bagaimana kalau tidak ada matahari dalam sistem tatasurya kita?
Rasanya sulit unruk dibayangkan dan dipikirkan lebih dalam oleh otak manusia biasa. Namun itu bukan alasan bagi kita untuk bosan merenungi karya cipta Allah.
Jika ditelaah dari peranan matahari :
a. matahari mempunyai fungsi yang sangat penting bagi bumi. Energi pancaran matahari telah membuat bumi tetap hangat bagi kehidupan, membuat udara dan air di bumi bersirkulasi, tumbuhan bisa berfotosintesis. Coba deh kita berpikir, jika tak ada matahari, akankah ada udara bergerak (sering kita sebut : angin?, akankah jemuran kita kering tanpa angin dan panas? akankah ada hujan,jika air tidak pernah mengalami evaporasi? akankah tumbuh-tumbuhan mampu berfotosintesis dan menyediakan makanan bagi manusia? lalu, akankah kita mampu bertahan hidup tanpa makan? Mungkin pertanyaan itu yang akan muncul mengiringi pertanyaan utama kita. Kemudian jika semua itu saya jawab TIDAK, maka itulah jawaban untuk pertanyaan utama kita. Yang berujung pada : tak akan ada kehidupan di muka bumi.
b. matahari merupakan sumber energi (sinar panas). Energi yang terkandung dalam batu bara dan minyak bumi sebenarnya juga berasal dari matahari. Batu bara dan minyak bumi pada hakekatnya adalah fosil dari tumbuhan yang telah tertimbun pada waktu yang sangat lama. Sebagai tumbuhan, maka karbohidrat dan energi yang disimpan dalam batang (yang kemudian menjadi fosil) tersebut adalah karena adanya sinar matahari yang berperan dalam fotosintesis sehingga menghasilkan karbohidrat tersebut. Lalu, akankah kita mampu melangsungkan kehidupan tanpa sumber energi? akankah ada kemajuan teknologi tanpa ada minyak bumi yang kita sebut sebagai ‘bahan bakar’? Dengan pemikiran polosku sebagai manusia, akan saya katakan
TIDAK. Dan itulah jawabannya.
c. Mengontrol stabilitas peredaran bumi yang juga berarti mengontrol terjadinya siang dan malam, tahun serta mengontrol planet lainnya. Seperti dua poin diatas, pada poin ini juga akan muncul banyak pertanyaan. Akankah kita mampu bertahan hidup tanpa ada cahaya? jika tak ada cahaya, lantas bagaimana kita memfungsikan mata kita? Jika tak ada siang dan malam, akankah ada yang kita gunakan sebagai patokan waktu? Tanpa ada matahari, apa akankah bumi kita berevolusi? Lantas apa yang akan terjadi? Mungkinkah bumi dan semua planet terhenti berotasi dan berevolusi dan terhenti pula kehidupan? Dan, lagi-lagi berujung pada kalimat “tanpa matahari tak kan ada kehidupan”.
Sebelum saya menuliskan pertanyaan-pertanyaan yang lebih ‘aneh’, akan saya ambil kesimpulan :
Menurut saya, jika tak ada matahari dalam tata surya kita, maka segala aktivitas kehidupan akan terganggu. Dan kesemuanya akan berujung pada ‘kehampaan’, maksud saya : tata surya (terutama bumi) akan menjadi hampa, bisu, tak ada kehidupan seperti sekarang ini.
Maaf, dengan penuh rasa hormat, jawaban saya sertai jawaban pokok dari semua pertanyaan, yaitu Wallahualam. Hanya Allah yang tahu persis bagaimana jika Dia tak menciptakan matahari. Dan jika Allah menciptakan manusia, Dia Yang Ar-Rahman Ar-Rahim tak kan membiarkan kita hidup dalam kehampaan, mungkin jika Dia tak menciptakan matahari Dia akan menciptakan benda lain sebagai bengganti matahari.
PERTANYAAN KEDUA:
2. Mengapa pluto tidak dimasukkan sebagai planet dalam tata surya kita?
planet Pluto ditemukan pada 18 februari 1930 oleh ahli astronomi amrik, Clyde W. Tombaugh,dan pluto terdaftar sebagai planet terluar dalam sistem tata surya kita. Namun Status Pluto sebagai planet terluat di system tata surya sudah mulai dicopot. Alasannya, pluto tidak memenuhi persyaratan planet, antara lain:
a. Obyek harus mengorbit matahari
Dalam hal ini, pluto tidak melanggar syarat. Pluto mengorbit matahari. Namun ada yang aneh dengan lintas orbit plito, bidang orbitnya sangat menyimpang (inklinasinya 17 derajat) dari bidang orbit rata-rata planet (inklinasi rata-rata 2 derajat). Lintasan orbitnya pun yang paling lonjong.
b. Obyek harus sedemikian massif sehingga memiliki gaya gravitasi sendiri.
Pluto terdiri dari batuan dan es. Diperkirakan komposisinya terdiri dari 70 persen batuan dan 30 persen es air. Atmosfernya sangat tipis terdiri dari nitrogen, karbon monoksida, dan metan yang hampir selalu berupa gas beku. Sehingga dapat dikatakan bahwa pluto tidak cukup massif untuk memenuhi persyaratan ini.
c. Tidak ada obyek lain di sekitar orbit dari obyek yang dimaksud.
Dalam hal ini pluto jelas menyompang, karena di sekitar orbitnya banyak juga objek sejenis berupa TNO.
Demikian uraian mengenai mengapa pluto tidak dimasukkan sebagai planet.
Terimakasih.


Psikologi Pendidikan. Makalah Konsep Dasar Belajar dan Pembelajaran

BAB I
PENDAHULUAN

Belajar dan pembelajaran merupakan suatu istilah yang tak dapat dipisahkan satu sama lain dalam proses pendidikan. Jika ada proses belajar, maka disitu ada pembelajaran. Dan jika ada pembelajaran berarti disitu ada proses belajar. Begitu seterusnya, saling terkait, tak dapat berdiri sendiri- sendiri.
Perbedaan belajar dan pembelajaran terletak pada penekanannya. Pembahasan masalah belajar lebih menekankan pada siswa dan proses yang menyertai dalam rangkan perubahan tingkah lakunya. Ada pun pembelajaran lebih menekankan pada guru dalam upayanya untuk membuat siswa dapat belajar.



BAB II
KONSEP DASAR BELAJAR

A. Pengertian Belajar

Belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku sebagai hasil interaksi individu dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Santrock dan Yussen mendefinisikan belajar sebagai perubahan yang relative permanen karena adanya pengalaman. Sedangkan Reber mendefinisikan belajar dalam dua pengertian, yaitu :
• Belajar merupakan proses memperoleh pengetahuan
• Belajar sebagai perubahan kemampuan bereaksi yang relative langgeng sebagai hasil latihan yang diperkuat.

Dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan suatu proses memperoleh pengetahuan dan pengalaman dalam wujud perubahan tingkah laku dan kemampuan bereaksi yang relative permanen atau menetap karena adanya interaksi individu dengan lingkungannya.


B. Ciri-ciri Perilaku Belajar

Tingkah laku yang dikategorikan sebagai aktivitas belajar memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. Perubahan tingkah laku terjadi secara sadar
Suatu perilaku digolongkan sebagai aktivitas belajar apabila pelaku menyadari terjadinya perubahan tersebut atau merasakan adanya perubahan dalam dirinya.
2. Perubahan bersifat kontinyu dan fungsional
Perubahan yang erjadi berlangsung secara berkesinambungandan tidak statis. Satu perubahan menyababkan perubahan selanjutnya yang akan berguna bagi kehidupan atau proses belajar berikutnya.
3. Perubahan bersifat positif dan aktif
Dikatakan positif apabila perilaku senantiasa bertambah dan tertuju untuk memperoleh sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya. Perubahan bersifat aktif berarti bahwa perubahan tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan karena karena usaha pelaku sendiri.
4. Perubahan bersifat permanen
Apa yang didapat tidak akan hilang begitu saja, melainkan akan terus dimiliki bahkan semakin berkembang kalau terus dipergunakan atau dilatih.
5. Perubahan dalam belajar bertujuan atau terarah
Perubahan tingkah laku dalam belajar mensyaratkan adanya tujuan yang akan dicapai oleh pelaku belajar terarah kepada perubahan tingkah laku yang benar-benar disadari.
6. Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku
Jika seseorang belajar sesuatu, sebagai hasilnya ia akan mengalami perubahan tingkah laku secara menyeluruh dalam sikap, keterampilan, pengetahuan, dan sebagainya.


C. Faktor-faktor yang mempengaruhi Belajar

Ada dua faktor yang memepengaruhi belajar, yaitu :
1. Faktor Internal
Faktor Internal adalah faktor yang berada dalam diri individu yang sedang belajar. Faktor internal meliputi :
• Faktor Jasmaniah
Antara lain : kesehatan dan cacat tubuh
• Faktor Psikologis
Antara lain : intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan, dan kelelahan.
2. Faktor Eksternal
Faktor Eksternal adalah faktor yang berada di luar individu yang sedang belajar. Faktor eksternal meliputi :
• Faktor Keluarga
Antara lain : cara orangtua mendidik, relasi antar anggota keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua, latar belakang kebudayaan.
• Faktor Sekolah
Antara lain : metode mengajar, kurikulum, relasi antara guru dan siswa, relasi antarsiswa, disiplin sekolah, pelajaran, waktu, standar pelajaran, keadaan gedung, metode belajar, dan tugas rumah.
• Faktor Masyarakat
Antara lain : kegiatan siswa dalam masyarakat, teman bergaul, bentuk kehidupan dalam masyarakat, media massa.

Menurut Muhibbinsyah, faktor yang mempengaruhi belajar ada tiga macam, yaitu:
1. Faktor Internal
Meliputi keadaan jasmani dan rohani siswa.
2. Faktor Eksternal
Meliputi kondisi lingkungan di sekitar siswa.
3. Faktor Pendekatan Belajar
Merupakan jenis upaya yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan mempelajari materi-materi pelajaran. Menurut hasil penelitian Biggs, ada tiga bentuk dasar pendekatan belajar siswa :
• Pendekatan surface (permukaan, bersifat lahiriah)
Kecenderungan belajar siswa karena adanya dorongan dari luar.
• Pendekatan deep (mendalam)
Kecenderungan belajar siswa karena adanya dorongan dari dalam.
• Pendekatan achieving (pencapaian prestasi tinggi)
Kecenderungan belajar siswa karena adanya dorongan untuk mewujudkan ego enhancement yaitu ambisi pribadi yang besar dalam meningkatakan prestasi keakuan dirinya dengan cara meraih prestasi setingg-tingginya.


D. Motivasi Belajar

Biggs dan Telfer menyatakan bahwa ada empat golongan motivasi belajar siswa, antara lain :
1. Motivasi instrumental
Siswa belajar karena didorong oleh adanya hadiah atau menghindari hukuman.
2. Motivasi social
Siswa belajar untuk penyelenggaraan ugas, dlam hal ini keterlibatan siswa pada tugas menonjol.
3. Motivasi berprestasi
Siswa belajar untuk meraih prestasi atau keberhasilan yang telah ditetapkannya.
4. Motivasi instrinsik
Siswa belajar karena keinginannya sendiri.

Motivasi yang tinggi dapat menggiatkan aktivitas belajar siswa. Motivasi yang tinggi tersebut dapat ditemukan dalam sifat dan perilaku siswa, antara lain:
• Adanya kualitas keterlibatan siswa dalam belajar yang sangat tinggi.
• Adanya perasaan dan keterlibatan afektif siswa yang tinggi dalam belajar.
• Adanya upaya siswa untuk senantiasa memelihara atau menjaga agar senantiasa memiliki motivasi belajar yang tinggi.

Keller menyusun seperangkat prinsip-prinsip motivasi yang dapat diterapkan dalam proses belajar mengajar yang disebut sebagai model ARCS. Model ARCS ini merupakan empat kategori kondisi yang harus diperhatikan guru agar proses pembelajaran yang dilakukannya menarik, bermakna, dan memberi tantangan pada siswa. Keempat kondisi tersebut adalah :
• Attention (perhatian)
Pehatian muncul karena didorong adanya rasa ingin tahu. Oleh karena itu rasa ingin tahu perlu mendapat rangsangan sehingga siswa selalalu memberikan perhatian terhadap materi pelajaran yang diberikan.
• Relevance (relevansi)
Relevansi menunjukkan adanya hubungan antar meteri pelajaran dengan kebutuhan dan kondisi siswa.
• Confidence (kepercayaan diri)
Percaya diri merupakan potensi untuk dapat berinteraksi secara positif dengan lingkungan. Bandura mengembagkan konsep ini menjadi konsep self efficacy. Konsep tersebut berhubungan dengan keyakinan pribadi bahwa dirinya memiliki kemampuan untuk melakukan suatu tugas yang menjadi syarat keberhasilan.
• Satisfaction (kepuasan)
Keberhasilan dalam mencapai tujuan akan menghasilkan kepuasan, dan siswa akan semakin termotivasi untuk encapai tujuan yang serupa.



BAB III
KONSEP DASAR PEMBELAJARAN

A. Pengertian Pembelajaran

Pengertian Pembelajaran menurut beberapa ahli :
Menurut Sudjana, pembelajaran merupakan setiap upaya yang dilakukan dengan sengaja oleh pendidikyang dapat menyebabkan peserta didik melakukan kegiatan belajar.
Menurut Gulo, pembelajaran adalah usaha untuk menciptakan sistem lingkungan yang mengoptimalkan kegiatan belajar.
Menurut Nasution, pembelajaran sebagai suatu aktivitas mengorganisasi atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkannya dengan anak didik, sehingga terjadi proses belajar. Yang dimakasud denagan lingkinagna disini adalah runga belajar, guru, alat peraga, perpustakaan, laboratorium, dan sebagainya yang relevan dengan kegiatan belajar siswa.
Biggs membagi konsep pembelajaran dalam tiga pengertian, yaitu :
1. Pengertian Kuantitatif
Penularan pengetahuan dari guru kepada siswa. Guru dituntut untuk menguasai ilmu yang disampaikan kepada siswa, sehingga memberikan hasil yang optimal.
2. Pengertian Institusional
Penataan segala kemampuan mengajar sehingga berjalan effisien. Guru harus selalu siap mengadaptasika berbagai teknik mengajar.
3. Pengertian Kualitatif
Upaya guru untuk memudahkan belajar siswa. Peran guru tidak hanya menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga melibatkan siswa dalam aktivitas belajar yang effektif dan efisien.

Kesimpulannya, pembelajaran merupakan suatu upaya yang dilakukan dengan sengaja olah pendidik untuk menyampaikan ilmu pengetahuan, mengorganisasi dan menciptakan sistem lingkungan dengan berbagai metode sehingga siswa dapat melakukan kegiatan belajar secara efektif dan effisien serta dengan hasil optimal.

B. Metode Pembelajaran

Metode pembelajaran adalah cara yang digunakan dalam proses pembelajaran sehingga diperoleh hasil yang optimal. Adapun berbagai metode pembelajaran yang dapat digunakan pendidik dalam kegiatan pembelajaran, antara lain :
1. Metode Ceramah
Penyampaian materi dari guru kepada siswa dengan melalui bahasa lisan baik verbal maupun nonverbal.
2. Metode Latihan
Penyampaian materi melalui upaya menanaman terhadap kebiasaa-kebiasaan tertentu, sehingga diharapkan siswa dapat menyerap materi secara optimal.
3. Metode Tanya Jawab
Penyajian materi pelajaran melalui bentuk pertanyaan yang harus dijawab oleh anak didik. Bertujuan memotivasi anak mengajukan pertanyaan selama proses pembelajaran atau guru mengajukan pertanyaan dan anak didik menjawab.
4. Metode Karyawisata
Metode penyampaian meteri denagn cara membawa langsung anak didik ke objek di luar kelas atau di lingkungan kehidupan nyata agar siswa dapat mengamati atau mengalami secara langsung.
5. Metode Demonstrasi
Metode pembelajaran dengan cara memperlihatkan suatu proses atau suatu benda yang berkaitan dengan bahan pelajaran.
6. Metode Sosiodrama
Metode pembelajaran yang meberikan kesempatan kepada anak didik untuk melakukan kegiatan memainkan peran tertentu yang terdapat dalam kehidupan sosial.
7. Metode Bermain Peran
Pembelajaran melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan anak didik dengan cara anak didik memerankan suatu tokoh, baik okoh hidup maupun mati. Meyode ini mengambangkan penghayatan, tanggung jawab, dan terampil dalam memaknai materi yang dipelajari.
8. Metode Diskusi
Metode pembelajaran melaui pemberian masalah kepada siswa dan siswa diminta memecahkan masalah secara kelompok.
9. Metode Pemberian Tugas dan Resitasi
Metode pemberian tugas dan resitasi merupakan metode pembelajaran melalui pemberian tugas kepada siswa. Resitasi merupakan metode pembelajaran berupa tugas pada siswa untuk melaporkan pelaksanaan tugas yang telah diberikan guru.
10. Metode Eksperimen
Pemberian kepada siswa untuk melakukan percobaan.
11. Metode Proyek
Membahas materi pelajaran ditinjau dari sudut pandang pelajaran lain.

Adapun prinsip dalam pemilihan mettode pembelajaran adalah disesuaikan dengan tujuan, tidak terikat pada suatu alternative, dan penggunaannya bersifat kombinasi. Faktor yang menentukan dipilihnya suatu metode dalam pembelajaran antara lain :
• Tujuan pembelajaran
• Tingkat kematangan anak didik
• Situasi dan kondisi yang ada dalam proses pembelajaran


C. Peran Guru dalam Aktivitas Pembelajaran

Peran guru dalam aktivitas pembelajaran tidak hanya menyampaikan ilmu pengetahuan, tetapi juga memainkan berbagai peran yang bertujuan mengembangkan potensi anak didik secara optimal. Djamarah merumuskan peran guru sebagai berikut:
1. Korektor
Guru menilai dan mengoreksi semua hasil belajar, sikap, tingkah, dan perbuatan siswa baik di sekolah maupun di luar sekolah.
2. Inspirator
Guru memberikan inspirasi kepada siswa mengenai cara belajar yang baik.
3. Informator
Guru memberikan informasi yang baik dan efektif mengenai materi yang telah diprogramkan serta informasi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
4. Organisator
Guru berperan mengelola berbagai kegiatan akademik baik intrakurikuler maupun ekstrakurikuler sehingga tercapai efektivitas dan efisiensi anak didik.
5. Motivator
Guru dituntut untuk dapat mendorong anak didiknya agar senantiasa memiliki motivasi tinggi dan aktif belajar.
6. Inisiator
Guru menjadi pencetus ide-ide kemajuan dalam pendidikan dan pengajaran.
7. Fasilitator
Guru hendaknya dapat hendaknya dapat menyediakan fasilitas yang memungkinan anak didik dapat belajar secara optimal.
8. Pembimbing
Guru memberikan bimbingan kepada anak didiknya dalam menghadapi tantangan maupun kesulitan belajar.
9. Demonstrator
Guru dituntut untuk dapat memperagakan apa yang diajarkan secara didaktis, sehingga anak didik dapat memahami pelajaran secara optimal.
10. Pengelola Kelas
Guru hendaknya dapat mengelola kelas dengan baik, karena kelas adalah tempat berhimpun guru dan siswa.
11. Mediator
Guru dapat berperan sebagai penyedia media dan penengah dalam proses pembelajaran anak didik.
12. Supervisor
Guru hendaknya dapat membantu, memperbaiki, dan menilai secara kritis proses pembelajaran yang dilakukan sehingga dapat optimal.
13. Evaluator
Guru dituntut untuk mampu menilai produk pembelajaran serta proses pembelajaran.


D. Kompetensi Profesionalisme Guru

Barlow berpendapat bahwa kompetensi professional guru adalah kemampuan dan kewewenangan guru dalam menjalankan profesi keguruannya. Guru yang profesional adalah guru yang mamapu melaksanakan tugas keguruannya dengan kemmpuan tinggi sebagai profesi atau sumber kehidupan.

Dalam menjalankan kemampuan profesionalnya, guru dituntut untuk memiliki berbagai kompetensi yang bersifat psikologi, meliputi :
1. Kompetensi Kognitif Guru
Guru hendaknya memiliki kapasitas kognitif tinggi yang menunjang kegiatan pembelajaran yang dilakukannya.Yang dituntun dari kemapuan kognitif adalah fleksibilitas kognitif, yang ditandai dengan adanya keterbukaan guru dalam berpikir dan beradaptasi. Bekal pengetahuan dan ketrampilan yang dibutuhkan untuk menunjang profesinya secara kognitif menurut Muhibbinsyah, meliputi dua hal :
• Ilmu Pengetahuan Kependidikan
Yang dikategorikan ilmu pengetahuan kependidikan antara lain : ilmu pendidikan, psikologi pendidikan, meode pendidikan, metode pembelajaran, teknik evaluasi, dan lain-lain.
• Ilmu Pengetahuan Materi Bidang Studi
Yaitu meliputi semua bidang studi yang akan menjadi keahlian atau pelajaran yang akan diajarkan oleh guru.
2. Kompetensi Afektif Guru
Guru hendaknya memiliki sikap/perasaan yang menunjang proses pembelajaran yang dilakukannya, baik terhadap diri sendiri atau anak didik. Dengan adanya sikap yang baik terhadap anak didik, maka anak didik akan merasa diharagai dan diakui keberadaannya, sehingga memberikan hasil yang optimal. Begitupun dengan adanya keyakinan yang tinggi tentang kemampuan mengajarnya jua]ga mengahasilkan siswa yang memiliki prestasi tinggi.
3. Kompetensi Psikomotor Guru
Kompetensi psikomotor guru merupakan keterampilan yang bersifat jasmaniah yang dibutuhkan oleh guru untuk menunjang kegiatan profesionalnya sebagai guru. Kompetensi ini dibedakan menjadi dua yaitu :
• Keterampilan umum
Meliputi :duduk, berdiri, berjalan, jabat dengan.
• Keterampilan khusus
Secara khusus direfleksikan dalam bentuk keterampilan untuk mengekspresikan diri secara verbal maupun nonverbal.




BAB IV
PENUTUP
Kesimpulan

 Istilah belajar dan pembelajaran merupakan suatu istilah yang saling terkait dan tak dapat dipisahkan satu sama lain dalam proses pendidikan.
 Belajar merupakan suatu proses memperoleh pengetahuan dan pengalaman dalam wujud perubahan tingkah laku dan kemampuan bereaksi yang relative permanen atau menetap karena adanya interaksi individu dengan lingkungannya.
 Tingkah laku yang dikategorikan sebagai aktivitas belajar memiliki ciri-ciri : terjadi secara sadar, kontinyu dan fungsional, positif dan aktif, permanent, bertujuan atau terarah, mencakup seluruh aspek tingkah laku
 Pada dasarnya faktor yang mempengaruhi belajar ada dua macam, yaitu faktor internal (jasmani dan rohani) dan faktor eksternal (keluarga, sekolah, masyarakat)
 Ada empat golongan motivasi belajar siswa, antara lain : instrumental, social, berprestasi, instrinsik.
 Pembelajaran merupakan suatu upaya yang dilakukan dengan sengaja olah pendidik untuk menyampaikan ilmu pengetahuan, mengorganisasi dan menciptakan sistem lingkungan dengan berbagai metode sehingga siswa dapat melakukan kegiatan belajar secara efektif dan effisien serta dengan hasil optimal.
 Metode pembelajaran adalah cara yang digunakan dalam proses pembelajaran sehingga diperoleh hasil yang optimal, antara lain : metode ceramah, latihan, tanya jawab, karyawisata demonstrasi, sosiodrama, bermain peran, diskusi, pemberian tugas dan resitasi, eksperimen, proyek
 Peran guru antara lain : korektor, inspirator, informator, organisator,motivator, inisiator, fasilitator, pembimbing, demonstrator, pengelola kelas, mediator, supervisor, dan evaluator.
 Kompetensi professional guru adalah kemampuan dan kewewenangan guru dalam menjalankan profesi keguruannya, meliputi : kompetensi kognitif, afektif dan psikomotorik.



DAFTAR PUSTAKA

Sugihartono, dkk. Psikologi Pendidikan. 2007. Yogyakarta : UNY Press