Kamis, 24 Maret 2011

Pletaaaaakkkk!

Pletaaaakkk..! Bambu tua itu tiba-tiba saja patah, entah kenapa. Semut di dalamnya sumamburat berlarian keluar, seperti ada bencana tsunami kering. Satu di antara mereka ada yang menarik perhatian si burhan, semut hitam kecil yang memikul seupa nasi, itu satu-satunya makanan yang sempat tergendong keluar patahan bambu penyangga lincak itu. Burhan tersenyum kecil, sekecil biji sawi (walaupun aku pun belum pernah melihat biji sawi itu seperti apa).

Sebenarnya apa yang dia perhatikan saat ini sungguh tak beranalogi dengan apa yang dia pikirkan. Pikirannya kembali kepada masa tadi pagi, ketika hentakan itu menghujam keras di depan mukanya. Air matanya berlinang tak karuan, dia mungkin lupa kalau di KTPnya tertulis “laki-laki” tak sama dengan yang ada di KTP milik ibunya.


“Bagaimana bisa kamu beranjak dewasa?!! Lihatlah pada dirimu! Jangan pada cermin yang tergantung di dinding kamarmu, tapi pada dirimu! Kedewasaan macam apa yang selalu kau inginkan namun tak pernah kau awali dengan langkah menuju cita-cita itu? Kamu sungguh aneh! Hai kamu yang tatanan rambutmu mirip sekali dengan bocah usia TK! Hai kamu yang selalu nglendhot-nglendhot seperti kucing yang minta makan! Hai kamu yang merengek manja setiap ada secuil masalah yang sebenarnya tak perlu dipermasalahkan! Hai kamu yang selalu bilang “aku ingin kurus sepertimu, aku nggak suka badanku, aku ingin tinggi, aku ingin putih bersih berseri, aku ingin blab la blab la” dan selalu membandingkan dirimu dengan mereka yang mempunyai apa apa yang kau inginkan itu! Hai kamu yang tak berani ke kampus sendirian! Hai kamu yang tak mau beli maem sendiri ke warung! Hai kamu yang minta ditemani ini itu kesana kemari! Hai kamu yang tak tau waktu ketika pacaran! Hai kamu yang selalu menanggapi setiap godaan “orang-orang nggak jelas”! Hai kamu yang mau ketemuan dengan si A, si B, si C, dkk, padahal kamu sudah bukan jomblo lagi dan bahkan tak pernah mengatakan pada mereka bahwa kamu tak sendiri! Hai kamu yang selalu mengumbar panggilan “mas” kepada siapa saja entah berapa umurnya, (ibuku bilang, mas itu mahal)! Hai kamu yang cengeng! Hai kamu yang selalu menggandeng tangan ketika berjalan berdua seperti manten sejenis, seperti anak kecil yang takut ditinggal ibunya! Hai kamu yang selalu ikut-ikutan apa keputusan teman (aku)! Hai kamu yang tak mau berdiri sendiri! Hai kamu..! Hai kamu!!! Tak tau atau tak mau tau!!! Jika itu kau pertahankan dan bermaksud ‘ah, aku ingin diperhatikan terus, aku ingin dipuja-puja terus, aku ingin disayang terus, aku ingin dimanja terus, bla bla bla’, lantas KAPAN KAU AKAN BERANJAK DEWASA!!! Kawan, bukan kuncup dadamu yang menandakan kedewasaanmu! Tapi tingkahmu!! Pola pikirmu! Bukan fisikmu! Kawan, sadarkan kau? Temanmu seperti ingin muntab saja namun tak pernah tega, tak pernah terlaksana. Temanmu merasa mbeseseg! Ah…! Kapan kamu akan paham… Ah… Fyuh….” (Pletaaaaaakk! Bunyi retakan hati yang sudah beranjak pecah berkeping-keping)


Burhan mengusap air matanya. Burhan menangis. Seorang burhan menangis. Sebenarnya bukan di untuk burhan kata-kata itu, jelas saja. Kata-kata itu untuk adik perempuannya, dari seorang teman yang entah darimana asalnya, yang tiba-tiba berkunjung ke rumah dan menyerahkan surat itu kepada tuan rumah (Burhan) lalu berpamit pulang. Burhan membacanya. Tepat di depan mukanya. Dia pandangi foto adiknya, “Hai kamu yang menjadi adikku, dimana kau?” Burhan menghempaskan wajahnya ke bantal…




24 Maret 2011

Kamis, 17 Maret 2011

APA KAU CEMBURU?

Wahai Tuhanku, Allah...
Mungkin tak pernah kupahami sebelumnya
Tentang apa apa yang telah Kau ciptakan untukku
Hanya untukku, spesial untukku.
Ketika semua ini hanya tampak seperti sebuah bola salju
Yang dingin menyenangkan dan terlempar pecah di hadapku
Itu hanya permainan belaka yang tak pernah ada maksud baiknya
Aku yang memunguti bola-bola salju yang tercecer itu
Terkadang merasa beku di ujung jemarianku
Tak mungkin
Tak mungkin
Dan tak mungkin
Terus-terusan saja aku menelan kosakata TAK MUNGKIN
Bukan karena aku tak percaya bahwa Kau Maha Berkehendak
Namun, ini adalah perkara TAK MUNGKIN yang lain
TAK MUNGKIN kau ridhoi aku memunguti bola-bola salju itu
Bahkan melemparkannya kembali ke tempat asal
Hingga terjalin lelemparan yang menyenangkan
Yang seperti menimang-nimangku dalam buaian fana!
FANA! Dan FATAMORGANA!!
Allah, Kau yang sebut Tuhanku..
Tidak pantaslah aku memohon yang terlalu lebih dari ini.
Yang aku tak pernah menghitung jumlah dari semua itu
Rumus mana yang harus kugunakan, tak ada
Jika apa yang Kau beri adalah sebagai wujud CINTA-MU padaku
Etisnya aku MEMBALAS CINTAMU
Memang Kau tak mengirimkan sekuntum bunga mawar atau sepucuk surat cinta
Namun lebih dari itu
Kau mengirimkan SURAT CINTA dengan sabar
Bahkan aku mengacuhkannya!!
Surat cinta yang kau titipkan pada seorang lelaki tampan itu
Beliau yang tersemat gelar Al Amin
Sungguh, Allah...
Aku telah mengacuhkan surat cinta itu
Maaf..
Baru aku sadari, bahwa KAU MEMANG BENAR CINTA...!
CINTA-MU yang membelaiku selama ini
Hingga aku bisa merasakan banyak rasa
Malahan, apa yang kau beri sebagai wujud CINTA-MU itu
Aku jadikan alat untuk mencintai MAKHLUK CIPTAAN-MU
APAKAH KAU CEMBURU, WAHAI ALLAHKU...
Jika benar Kau cemburu,
Jalan mana yang harus aku tempuh
Untuk menukar rasa cemburu itu dengan segenggam ampunan

Entah apa yang kuyakini selama ini
Imanku yang seolah seperti gelombang tsunami yang tak menentu
Maaf jika cinta-Mu seolah tergadaikan
Tapi sungguh,
Aku ingin
AKU TAK KAN MENGGADAIKAN CINTA-MU

Senin, 31 Januari 2011

aku menujunya

Ketika aku berjalan di sebuah taman, aku melihat macam-macam bunga, tertanam di sana. Aku dekati mereka, mereka terpencar satu sama lain. Ada yang di bawah pohon rindang, tampak sejuk menyejukkan dan sangatlah menarik hati. Aku ingin sekali mendekatinya dan memilikinya, indah sekali. Namun ketika aku melangkah menujunya, aku melihat dari arah yang berlawanan, ada yang mendahuluiku sampai ke tempat itu, pun dari sisi lain ada juga yang menghapirinya, tak hanya satu, banyak, dari berbagai penjuru.

Aku terdiam. Aku memutar langkahku, menatap ke atas sana. Ada sebentuk mentari yang tersenyum manis padaku. Melihatku dalam kubang-kubang kesendirian yang indah dimatanya. Langit tampak cerah secerah aku mencoba mengobati rasaku, tak ada gumpalan awan sedikit pun, hingga tampak luas seluas harapan.
Ketika aku melempar senyumku ke arah mentari itu, aku mendengar sesuatu memanggilku, "Hai, nak, apa yang kau lakukan disana??!". Aku menolehkan wajah, terlihat seorang bapak tua dengan pakaian lusuh dan topi yang sobek di bagian pinggirnya, menatapku penuh kelembutan dan melambaikan tangan ke arahku. Si bapak itu, penjaga taman ini.

Mataku tersenyum, mengiringi langkah santaiku menuju si Bapak. Bapak itu mengajakku duduk di kursi taman yang tak jauh dari kolam, sebelum aku sempat menjawab pertanyaanya tadi.

"Sendirian saja, nak?", tanyanya, sambil mempersilahkan aku duduk di kursi berwarna merah jambu.
"Iya, pak. Tadinya cuma lewat saja, tapi tertarik masuk karena lihat kuntum bunga di sebelah sana", jawabku sembari melempar pandanganku ke arah kerumunan orang-orang yang menutupi bunga tadi dari pandanganku.

Si Bapak hanya tersenyum, lalu berjalan menuju tengah taman. Aku bingung. Kuikuti saja langkah bapak itu. Pikiranku berputar, apa maksudnya?. Tiba-tiba si Bapak menghentikan langkah tepat di ujung jalan berbatu kerikil kecil-kecil.
"Nak, mengapa kau tak mengambilnya saj?", tanya si Bapak dengan pandangan penuh isi.
"Terlalu indah untuk dipetik, pak. Apalagi banyak yang berharap sama denganku", jawabku lirih tanpa nada yang menandakan aku sedang kebingunan di tengah keseriusan.
"Bukan itu, Nak. Tapi ini," si Bapak berjongkok lalu menunjuk pada sebatang tanaman di depannya, di ujung jalan itu.

Tanaman itu belum ada cabangnya, walaupun nyatanya itu adalah tanaman bercabang. Batangnya setengah layu mencoba tetap berdiri tegar. Daunnya lusuh, seperti baju si Bapak tadi. Bunganya belum sempurna, baru kuncup kecil yang mungkin juga hampir layu. Ditumbuhi rumput di sekelilingnya. Keadaanny berlawanan sekali dengan bunga di bawah pohon rindang tadi.

Aku masih terdiam, membisu seribu kata.

"Nak, ambillah," si Bapak menyuruhku mengambilnya.

Masih setengah sadar, aku mengelus tanaman itu dengan lembut, entah dari mata asalnya aku melakukannya dengan posisi mataku berair.
"kenapa, pak?" suaraku serak.

"Nanti kau akan tau, ambillah, dia menunggumu disini lama, dia sudah di ujung jalan," si Bapak bangkit dari jongkoknya dan berjalan meninggalkan aku yang masih kebingungan.

Ku tatap lekat-lekat tanaman layu di depanku. Perlahan kuambil dia, kubawa dengan kedua tanganku. Bajuku terkotori tanah yang ada di akarnya, kukibaskan.

Aku berdiri dan ingin menanyakan sekali lagi kepada si Bapak. Namun si Bapak sudah menghilang dari taman. Tidak ada di tempat yang tadi, tak ada di kursi taman merah jambu, tak ada balik semak, tak ada di mana-mana.

Dengan langkah yang kuseret perlahan penuh rasa bimbang ku bawa tanaman itu menyusuri jalan kerikil kecil-kecil itu. Sesekali aku meringis karena kerilik itu satu dua ada yang tajam menghujam kakiku.

Hingga di gerbang taman, aku tersenyum melihat secercah sinar menyejukkan dari balik pohon tepi jalan.

Aku menujunya.






Warnet Kuningan, blok 7
1 Februari 2011

(Rinda Rindu)

Selasa, 25 Januari 2011

Crop Circle...Taksebut STEMPEL BUTA

Berbicara tentang tapak tilas UFO yang menggegerkan saperangan masyarakat Jogja dan sekitarnya, aku jadi tidak bisa makan tidak enak minum dan tidur pun tak nyenyak. Bukan karena aku memikirkannya, tapi karena memang tidak ada makanan --dan minuman semua dingin-- dan aku tidur di lantai di depan laptop yang masih menyala. Hehe.



Kemarin-kemarin aku nggak tau kalau di Sleman ada prastawa yang menghebohkan. Pasalnya, aku sedang dalam proses liburan (jadi tidak berinteraksi dengan khalayak ramai di kampus yang menjadi sumber info), hape tidak bisa untuk FBan (jadi tidak bisa mengikuti info terbaru setiap saat), tipi rusak menjelma menjadi radio berlayar tanpa gambar dan bersuara terkadang berisik saja (jadi aku sama sekali tidak tertarik untuk menyalakannya), hape bisa untuk radioan sih tapi yang dicari cuma chanel campursarian saja (haha). Dan kemarin sore bapakku yang sedang sms-an dengan simbahku yang tinggal di Magelang tiba-tiba menginfokan kepada seisi rumah bahwa di Sleman ada bekas pendaratan UFO. (What?? Bapak memang berjiwa muda! Simbahku juga tak kalah!! Sms-an mbahas UFO). “ngekkk...” UFO apaan? Aneh-aneh saja lah si bapak.



Tik tak tik tak. Akhirnya setelah si bapak penasaran lair batin tentang tapak pessawat UFO, dan setelah menyetel tipi dan akhirnya sia-sia, bapak mengijinkan kami OnLine njebol spidi yang harusnya sudah habis masa hidupnya (bukan unLimited je). Kami berselancar mencari si UFO, hah...maksudku mencari info tentang sawah Sleman yang menjadi bandara UFO. Setelah semalaman bermobat-mabit membaca dongengan aneh para wartawan dan para ahli ini itu, mengamati gambar-gambar pola unik, melihat video yang keren, sampai-sampai kami malah mengalihkan pembicaraan adanya video rekaan tentang malaikat yang turun ke ka’bah (Lhohhhh??!).



Ternyata fenomena semacam itu sudah bukan fenomena asing lagi (tiba-tiba aku mulai merasa menjadi orang terbodoh dan terkuper sedunia akhirat). Fenomena itu disebut “Crop Circle”, sudah ada sejak taun 1960an, dan sampai saat ini sudah ribuan bentuk pola yang mendarat di muka bumi. Kejadian ini paling banyak terjadi di daerah Inggris, dan yang lainnya tersebar di negara-negara di dunia. (Waaaauuuuu....!!!). Aku mendapat beberapa fotonya, aneh-aneh.. bentuknya ada yang berupa lingkaran dengan segala variasinya, ada yang berupa gambar burung garuda, capung, serupa kalajengking, ada juga yang berupa wajah alien... Hah? Alien? Apakah itu potret wajah si pembuat? Hahahaa. Tanyaku :



- Mengapa harus di area persawahan atau ladang? Kenapa nggak di laut saja sana? (Mungkin karena si “pilot” ingin mengukir karya yang bernilai seni tinggi yang tak mudah hilang. Karena kabarnya radiasi yang membuat batang padi bengkok itu memiliki panas khusus yang tidak menjadikan padi mati tapi hanya bengkok dan tetap hidup dengan posisi semi-permanen bengkok. //aku jadi ingat punggungku, apa radiasinya bisa menyembuhkannku. Hahaha). Bukan. Ternyata di belahan bumi lain ada juga yang terjadi di atas es dan juga padang pasir, toh mungkin ada yang terjadi di laut namun tak membekas. Hehe)



- Mengapa padinya roboh rapi seperti disetrika? Harusnya kalau serumpun padi kita jatuhi papan maka padinya akan berantakan robohnya, tidak searah rapi begitu! (Mungkin itu kerjaan manusia yang kurang kerjaan saja, yang ingin mengalihkan perhatian masyarakat+pemerintah+media pers+semuanya dari masalah korupsi –gayus- yang sedang naik daun. Karena di youtube kami menemukan sekelompok orang yang berhasil membuat Crop Circle dengan menggunakan alat yang mereka ciptakan (Manual..!! Mungkinkah ini cerita Bandung Bondowoso versi modern yang membuat hal ajaib dalam waktu semalam?? Haha). Atau orang yang ingin membawa nama Yogyakarta menjadi lebih terkenal karena berbagai fenomena alam yang menyita perhatian, seperti : mbah maridjan, merapi meletus, hujan abu, banjir lahar, ditambah lagi “STEMPEL BUTA” –istilahku untuk menyebut Crop Circle-, Komplit sudah unsur magisnya. Mungkin besok sawah disitu jadi banyak sesaji dan padinya keramat. Piiissss. Silahkan mencari jalan yang lurus sendiri-sendiri. Aku percaya orang disini tidak selebai pemikiranku. Hehehehe)



- Mengapa nggak ada yang tau kalau ada pesawat UFO yang mendarat (seperti hebohnya dugaan masyarakat yang menyebutnya UFO)? Mengapa belum ada berita ada orang yang kejatuhan UFO? Haha.. (Mungkin karena si “pilot” mengemudikannya cepat sekali dengan frekuensi yang amat sangat tinggi sekali sehingga tidak tampak oleh mata dan hanya terdengar sedikit gemuruh saja seperti pengakuan sebagian warga sekitar. Atau pesawatnya itu memiliki formasi “loncat-loncat”, jadi persis kayak STEMPEL saja. Hahahahaa. Dan berberapa saat kemudian akan berformasi lagi menjadi bentukan lain atau mengubah posisi jatuhnya, kemudian jatuh di belahan bumi lain dengan motif yang berbeda. Ckikikikkk...benar-benar “STEMPEL BUTA” –bahasa jawa : Stempel Raksasa). Bukan,Nak. Bukan begitu. Di youtube kami juga menemukan peristiwa terjadinya Crop Circle dalam sekejab saja. Disitu murni adalah rekaman amatiran, merekam area persawahan dimana diatasnya ada beberapa burung yang berterbangan, beberapa detik kemudian beberapa padi ambruk secara runtut membentuk lingkaran besar kemudian diikuti padi sekelilingnya yang membentuk lingkaran kecil-kecil. Dan tidak tampak adanya pesawat UFO yang orang bilang seperti piring terbang, tidak ada orang yang merubuhkan padi, tidak ada apa-apa, hanya ada beberapa burung yang mondar-mandir di atasnya (apa mungkin burung itu yang melakukannya?? Haha). Maka dari itu sampai sekarang belum ada berita ada orang yang kejatuhan UFO, karena itu Cuma radiasi saja. Heheheee...mungkin.



Nah, untuk urusan yang ketiga di atas. Ternyata yang mendekati masuk akal (namun belum masuk, Cuma berdirinya lebih dekat dengan pintu masuk) adalah kenyataan yang ada di video dimana pola Crop Circle terjadi dalam waktu beberapa detik saja tanpa terlihat adanya “sesuatu” yang membuatnya. Mengapa? Mengapa? Dan mengapa? Karena, itu STEMPEL BUTA!! Hahaha..



Tidak.Tidak. Jadi, menurut apa yang saya tangkap dari pembicaraan keluarga (lhohhhh...ternyata keluargaku termasuk yang terkena dampak isunya), dan jika saya tidak salah tangkap karena ngantuk, hehe, ternyata dahulu ada orang yang mengirimkan “pesan” ke luar angkasa. Siapa mereka? Yang jelas bukan orang Indonesia, jadi kita nggak kenal, mungkin negara maju seperti Amerika atau mana saya juga kurang tahu soalnya suara di videonya tadi tu bahasanya bahasa inggris dan videonya malah belum keDownLoad keburu rekening jebol. Haha. Pesan yang dikirim berupa sinyal-sinyal semacam sinyal radio yang berupa pola-pola / motif. Dan beberapa waktu kemudian ada jawaban dari angkasa yang diwujudkan pada fenomena “Stempel Buta” itu (maksudnya Crop Circle). Hal ini dipercaya oleh sebagian ahli karena bentuk pola yang dilaporkan terjadi di beberapa tempat adalah sama dengan pola yang dikirim ke luar angkasa. Ada juga sih yang sedikit berubah. Lhoh....siapa yang menjawab???!! Apa Anda menanyakannya? Maaf, saya pun tak tahu, mungkin jika saya kuliah di astronomi aku akan bertanya kepada dosenku, tapi maaf saya kuliah di bahasa jawa jadi nggak ada kaitannya dengan hal semacam ini (walaupun sebenarnya saya tertarik sekali dengan sains semacam ini. Haehehe, jangan mempengaruhiku untuk berpikir ‘salah jurusan’. hoho).



Oh, ya, kembali ke topik utama. Dari sekian gambar yang menyatakan kemiripan antara pesan terkirim dan pesan diterima, ada yang membuatku kaget. Katanya, ketika dari bumi mengirim sinyal pesan berupa bentuk gambar wajah manusia, selang beberapa waktu yang menjadi motif Crop Circle adalah bentuk serupa wajah yang seperti manusia tapi bukan manusia, orang-orang bilang itu Alien. Apakah mereka sedang bertukar foto???!! Hebat, awalnya si bumi mengajarinya berbagai pola-pola simbol di bumi, kemudian juga mengajarinya menggambar berbagai binatang di bumi, dan kemudian mereka saling bertukar foto, dan kemudian juga mengajari tentang metafisika/biofisis dalam tubuh manusia (dalam agama Hindu namanya Chakra dasar atau Muladhara. oh ya...pola yang ada di sawah brebah sleman itu sama seperti simbol Muladhara agama Hindhu). Ini sama halnya dengan apa yang dikatakan *siapa namanya aku lupa* yang merupakan anggota UFONESIA (hehe..pengamat UFO itu ceritanya), katanya setiap pola yang ada di Crop Cirle itu memiliki arti. Mungkin itu lah artinya, perkenalan antara makhluk bumi dan makhluk langit. Dan mungkin setelah mereka saling mengenal satu sama lain mereka akan berkawan akrab (semoga bukan wujud penjajahan ala alien, atau malah berujung pada kawin silang antara manusia dengan alien. Hahhhh?? Tuing tuing tuing).



Tapi apa benar ada kehidupan lain di luar bumi, ada makhluk luar angkasa? Lalu dimana mereka tinggal? Di planet Mars dimana para ahli menemukan adanya metana yang merupakan hasil sisa organisme? Atau di planet Corot yang terdapat di luar tata surya yang memilki ciri seperti bumi? Atau di bintang yang menjadikan bintang berkedip-kedip karena ada yang mengandalikannya?(Hah...bukan! Itu karena gelombang cahaya yang berbelok ketika jatuh ke bumi. Hehe). Ops... Lalu, kalau pun ada, lalu apa agama mereka? Kenapa di kitab-kitab tidak dibahas? (atau aku saja yang tidak tau. Hehe).



Maaf, maaf, semakin saya melanjutkan mengetik maka anganan saya pun semakin menjadi-jadi dan semakin aneh, takutnya jika terserang penyakit gila atau ngidam kepengen sms-an sama “luar angkasa”. Ahihihiiiii.... saya sudahi saja, dan cukup saya saja yang menyimpan khayalan aneh yang lebih aneh dari yang saya tuliskan disini, saya tidak akan menyebarkan virus, seperti hubungannya isu bencana 2012 dengan salah satu pola Crop Circle, atau tentang hubungannya dengan upaya pencarian tempat pengungsian jika esok bumi sudah rusak parah, atau tentang ‘ah...itu penjajahan bentuk baru, untuk menjajah pola pikir masyarakat saja’, atau .... atau... atau... Ckakakak... Ssssttt..



Sudahlah, salam saja buat mas Rendy yang membersamaiku berkhayal aneh. Pokoknya, siapapun yang membuat Crop Circle itu, apa itu hasil olahan teknologi canggih? Yang pasti si pencipta teknologi itu adalah ciptaan Allah. Apa itu benar dari radiasi luar angkasa? Yang pasti luar angkasa itu ciptaan Allah. Apa itu hasil karya makhluk lain selain manusia-hewan-tumbuhan? Yang pasti semua yang ada di alam semesta ini ciptaan Allah. Pokoknya, intinya, ambil saja hikmah dari semua ini, bahwa Allah Maha Pencipta, tak ada yang tidak mungkin bisa Dia ciptakan. Dan Dia adalah Maha Segalanya, hingga logika kita pun tak mampu menggambarkan betapa ke-Maha-an sungguh luar biasa. PDKT-lah kita dengan-Nya... itu saja.





***ini hanya celetukan bocah kurang kerjaan saja, mungkin***



Salam Stempel Buta..!!

Gludhag!

Selasa, 16 November 2010

Yojawates

Dhewe ora ateges kasepen. Rungokna apa sing neng njero iki. Rame banget, nganti garuh anggonku ngrungokke, apa maneh ngrasakke, kaya swarane mesin bis sing dak-tumpaki iki. Janma manungsa pating slebar neng saindhenge Rumah Sakit Sardjito. Ana bapak tukang becak sing kewalahan nggenjot pedhal jalaran penumpange bapak-ibu-anak. Ana mbak-mbak karo mas-mas sing nganggo jubah dokter, njalari aku eling jaman semono nalikane aku mulih sekolah ngonthel mesthi liwat ngarep Rumah Sakit Wates jalaran kepengin dadi dokter utawa perawat, kuwi mau mung impen sing ora ana kasunyatane. Neng cedhak shelter Trans Jogja sisih tengenku, ana simbah-simbah mripate sing tengen ditutup perban, apa nembe wae operasi katarak, aku ora ngerti, sing dak-ngerteni ya mung simbah kakungku sing wis kapundhut dening Gusti sadurunge sempat operasi katarak. Tinimbang aku ngalamun mikirke prastawa sing wis kliwat, aku nyetel radio neng hapeku, nganggo colokan kuping (kakangku nyebut headset sing cilik kuwi colokan kuping). Wis ora perlu pindah-pindah frekuensi. Pas banget, ana lagon-lagon sing dak-senengi.

Bis mandeg jegreg. Nunggu penumpang. Aku isih asik ngrungokke radio sing colokan kupinge tak-tlesepke jilbabku, dadi ora ketok, ora ana wong weruh, weruhe ya mung aku manggut-manggut ora jelas. Kedadak mandheg anggonku manggut-manggut, aku weruh neng ngarep kono rada mendhuwur, ana jembatan penyebrangan sing durung dadi. Aku mikir meneh, kok bisa-bisane ya wong-wong kae gawe jembatan neng ndhuwur dalan gedhe ngene? Kok ora ambrol ya? Jan-jane aku ya wis ngerti nek kuwi nganggo teori, ning aku ora ngerti apa teorine. Dadi marakke ngguyu dhewe yen kelingan jaman SMP aku wis tau kepengin dadi arsitek. Ya wektu kuwi aku lagi seneng-senenge orek-orekkan nganggo petelot nggawe sketsa omah-omahan, jalaran mbiyen seneng pelajaran nggambar, dhasare gurune ya nyenengke.

Jogja Chicken, ora adoh seka jembatan kuning sing ndadekake aku kepengen nang Minangkabau jalaran ana ing sisih tengen jembatan ana omah sing kaya omah adat Minangkabau, ning ya tetep luwih apik pandapa tedja –wong Jawa je—. “Kapan ya aku mlebu nang Jogchick?”, batinku, dhasarane bocahe ndesa, durung kenal jogja chicken.
Radioku suarane pating-kresek. Sajake gelombange wis ora nyaut tekan kene, mula frekuensine dakgenti, wis ora ana lagon campursarian maneh, saiki nyetel nasyid. Dhuh Gusti paringana rahmat lan keslametan, kagem Nabi junjungan kula Muhammad... lagu kuwi nganggo limang basa, ndadekake aku sadar yen urip iku kudu ngurmati basa liyan.
Mak-grudhug, bocah-bocah sing nganggo sragam SMP lan SMA akeh sing padha numpak. Aku kaget. Jebul wis kesuwen anggonku ngalamun. Iki wis tekan. “Mbak, mbak, aku duduk sini ya”, ana bocah sragam biru-putih njawil aku banjur lungguh ana sandhingku. Aku mung manthuk karo mesem. Aku gumun karo bocah-bocah sragam biru-putih karo klawu-putih kuwi. Ora merga klambine sing wis keciliken, ning merga guyone sing marakke aku melu ngguyu. Kaya-kaya aku kepengin mbaleni jaman sekolahku biyen, kepengin ngebis bareng kanca-kanca akeh. Ora dhewekan kaya saiki. Biyen ya mulih sekolah mung dhewekan ngonthel, merga jarang ana kancaku sing numpak pit. Ya mung seploke kuliah iki aku ngebis, malahan wis tau kesasar barang.

“Abege, anake bakule gule. Abege, aku bingung nggugu karepe...”, lagune mas-mas sing lagi ngamen. Swarane sora dak-rungokke. Neng Jl.Godean iki aku mesam-mesem krungu lagu kuwi. Lagune pancen apik. Coba nek kelompok band-ne kakangku gelem nggarap lagu kuwi, tak-acungi jempol. “nggamping....nggamping!!” keneke bengak-bengok marakke sing lagi ngamen banjur liren.

Saka sebrang dalan kae wis katon bapak-bapak sing padha ngawe-awe. Kenek-kenek bis pancen pinter anggone golek penumpang. Aku sing lagi bingung merga ra wani nyebrang dhewe iki kedadak bungah nalikane ana kenek bis sing nyebrangke. “tindak pundi ta mbak?” ngendikane. “Wates”, ujarku. “Melu bis gedhe wae mbak”, bapak kuwi mau sajakke ngerti apa karepku, aku pancen kepengin numpak bis gedhe. Aku ora mangsuli, mung manthuk karo mesem. “Hhmm...”, aku lega oleh kursi ngarep cedhak lawang, merga mengko dadi gampang lehku arep mudhun.

Aku mung meneng wae. Pikiranku mbalik ana ing wektu kira-kira nem wulan kepungkur, nalikane aku pisanan wani ngebis dhewe. Wektu kuwi niyatku kepengin gawe sureprise nggo mamakku, aku bali dhewe, ngebis, biasane aku mbonceng masku sing kuliah nglaju. Wis semangat gawe sureprise, jebul neng ndalan aku kesasar, njuk malah gawe bigunge wong tuwa. Dadi kejutane ora kejutan bali ngebis, ning kejutan aku kesasar.
Dhuwit limangewu tak-cepakke nggo bayar. Tak-caoske bapak-bapak kenek sing mau nyebrangke aku. Batinku, “sujakna mau sing nyebrangke aku ki kenek bis gedhe, coba nek kenek bis cilik kaya dhek wingi, mesthi mengko keneke muni-muni merga aku ora melu bise”.

Dalanan kebak kendaraan, rame, pating-sliwer. Weruh kendaraan pating-sliwer kuwi marakke sirahku mumet gliyeng-gliyeng. Ning ya karang kursi jejerku kosong, dadi ora ana sing bisa tak-jak ngobrol, dadi aku mung dadi tukang ngalamun.
“Ndalangan...ndalangan...!!”, swara kuwi nggawe aku kaget. Jebul aku keturon. Enggal-enggal aku siap-siap mudhun, kurang luwih telung menit meneh aku tekan. “Gepura ngajeng, Pak”, aku ngadeg karo nudhing mengarep, matur karo pak kenek.

Pancen omahku dudu pinggir dalan iki. Aku kudu mlaku kira-kira telungatus meter liwat tengah sawah. Dhewe. Gliyak-gliyak tak-lakoni. Pisan-pisan ngguyu manthuk aruh-aruh nalikane ana simbah-simbah sing lagi nggarap sawah. Srengengene wis manjlung mangulon. Swara banyu kalen anteng senajan iline banter, kaya-kaya nggambarake aku sing kawit mau gaweane mung ngalamun, meneng wae nanging pikirane tekan ngendi-endi. Ora jelas, ora cetha, critane Yojawates.

Rabu, 06 Oktober 2010

syawalayan dedingin

[05 Oktober 2010]

Pojokan cine club memang terasa dingin oleh syarafku, entah syaraf hati maupun syaraf ragaku. Yang kemudian menjadikan aku menyeruakan kata-kata yang mungkin tak semestinya aku katakan, walau hanya dalam hati. Hening. Batinku saja. Aku tak lagi mendengar alunan lagu yang mendayu-ndayu dari meja si mamacaca, karena rasanya aku ingin sekali marah pada telingaku. Aku tak lagi mendengarkan cengkramaan yang ngalor ngidul ngetan ngulon di belakangku. Aku tak lagi memikirkan baju apa yang aku kenakan. Batik entah model apa, yang jelas banyak yang menyamainya.

Sekarang?

Si mamacaca sedang berdoremi ria di depan sana, entah tempat apa itu, aku tidak jelas sangat akan hal itu. Dulu pernah aku berkenalan, namun sekarang seakan melupakan teman barunya ini. Teman baru yang terlupakan, sayang sekali, ada ada saja predikat untuk seorang teman baru yang terlupakan ini. Aku? Mungkin, lantas sipa lagi. Sekarang apa lagi? Pembahasan tentang : “...kula dalah panjengan sedaya minangkan titah sawantah ingkang pinurba kawasesa dening Allah Subhanahuwata’ala ingkang murbeng dumadi bla bla bla...., mungkin tak seluruhnya kupahami arti per kata-nya. Aku mendapati rentetan huruf itu dari kang guru –harusnya kutulis : kangguru—. Fyuh...entah.

Tadi sudah dipergemakan oleh seorang ukhti. Hebat sekali ukhti itu, aku ingin berguru kepadanya, mengajariku berdendang nyaring macam itu. Itu tadi, tadi juga sudah ada sekelumit sambutan dari para tetua, intinya sama saja, ya itu itu saja, tak ada jimpitan perkataan yang nggreget.

Aku sendiri termangu dalam kesibukan memainkan pola pikir orang waras yang sedang menggila –sebut : pola pikir kesemrawutan, memberi mandat kepada kelima prajuritku untuk melompat-lompat sesuai pola pikir kesemrawutan tadi. Lamalama menjadi lama, lamalama aku memutuskan suatu hal –yang sebenarnya belum pernah jadian—, aku menidurkan si LC, lantas aku membersamai kakakatin yang sedang menimba ilmu di depan sana. Ya, aku akan menimba ilmu, dari sang inspirator.

Selanjutnya, selanjutnya, dan selanjutnya... Pembicara yang yah... bisa dikatakan dahsyat hiya, hebat hiya, keren hiya, kalem hiya, pendiam hiya, fyuhh...susah untuk digambarkan dengan kata kata. Intinya??? Maaf, tak ada istilah inti disini, ini bukan sel yang memiliki nukleous, hanya ada organela organela yang sama sekali tak jelas dimataku –walaupun sudah memakai kacamata— Tentang salamsalaman, tentang ramadhan yang menyandang gelar bulan pengupgrade iman, tentang segala sedekah – memaafkan, entah darimana beliau menghubungkan antara sedekah dengan memaafkan dan juga hubungannya dengan tema salamsalaman. Hebat sekali beliau ini. Beliau yang disebut oleh si mamacaca sebagai “raka mas”.

Setelah segala ilmu masuk dalam bebenakku, dan kemudian keluar lagi tanpa permisi, hanya meninggalkan sidik jari dan tapak kaki dalam buku catatan kecilku. Tanpa salam juga dia ngeluyur entah kemana, dan tak mau mengangkat telponku. Awalnya aku ingin mengajaknya untuk memainkan micropon, berlagak seperti sang pembicara tadi, dan menyampaikan sepenggal kata tanya yang mungkin akan menyerang balik pada diriku sendiri di depan teman-teman dan para dosen. Namun itu hanya bayanganku saja. Nyatanya tidak ada ruang untuk kami melancarkan bumerang itu. Jadi, tidak perlu untuk aku pikirkan lagi tentang hal itu, buang saja bumerang itu. Tidak akan melancarkan protes kepada si mamacaca yang tidak menggubris smsku yang menggelitik tentang pesanan ruang.

Tidak seperti dugaan awalku, adanya sepotong hiburan yang setidaknya berusaha menhibur diriku yang tak menentu suhunya ini, menghindari terjadinya pelapukan. Seperti bebatuan yang melapuk ketika perubahan suhu terlalu kontras, atau seperti gelas dingin yang disirami air mendidih dan kemudian meretakan diri. Ternyata ini adalah acara puncak dan kemudian akan disusul oleh acara topi, maksudku acara penutup. Ooohh...biasanya aku akan nyaman sekali berlama-lama disini, walau kondisinya tak sama seperti biasanya, walau memang sedang bersuhu tak menent, walau walau walau dan walau yang lain lain. Dan biasanya aku enggan sekali memakai topi, maksudku acara penutup. Tapi kali ini luar biasa.

“Aku ingin mencintaiMu, setelusnya sebenar benar aku cinta, dalam doa dalam ucapan dalam setiap langkahku. Aku ingin mendekatiMu selamanya, sehina apa pun diriku ......”. Maaf, bukan apa apa, itu penggalan lagu yang (saat ini) mengiringi jejemarianku menari nari diatas tubuh si LC. Aku suka sekali lagu itu. Apa lagi lagunya si Fika yang berjudul Doa Kalbu. Nyaman sekali mendengarnya. Tatkala juga hatiku yang sedang poyang payingan tak menentu ini mendapati setetes embun –terlalu sering berimajinasi aneh, penyakit gila nomor 571—.

Kembali pada bahasan awal. Hhmm..aku ingat, ketika tadi ada acara tambahan, mamacaca sebut itu salamsalaman. Unik memang istilahnya, salamsalaman. Ya, salamsalaman. Biar tiga gratis satu, aku tulis lagi, salamsalaman. Aku menjabattangani beberapa saudara dan saudariku yang entah aku telah berapa juta kali berdosa kepadanya, buku catatan dosaku aku titipkan pada malaikat rakib atid, aku berikan sajalah pada mereka, aku tak punya pulpen untuk mencatatnya, itu buku sepesial, tak bisa ditulisi dengan steadler, pilot, maupun snowman. Jabat tangan. !@#$%^&!@#$%^ (dianggap ada gambar jabat tangan).

“.......Adicara salajengipun inggih menika panutup. Saderengipun adicara menika kita tutup, ing mbok bilih anggenipun kula ndherekaken lampahing adicara ing siang menika kathah cicip cewet cicir kaduk cupeting nalar kiranging budi, labet kuthunging paramasastra, kula tansah mawantu wantu nyuwun lumebering sih samodra pangaksami........” kekalimatan itu masih terjiplak di memoar otakku, bekas waktu dulu itu pernah suatu kali aku berguru pada kangguru untuk memenuhi perintah atasan. Ya sekarang aku mendengarnya lagi, tapi tak kembar.

AC mati? Ya. Ooo. Baru aku sadari bahwa aku tak merasakan dinginnya belaian AC. Terlalunya aku dalam merasai dedinginan yang kadang beralih pada pepanasan dan kemudian kembali pada dedinginan lagi dan begitu seterusnya. Sepeti butuh semacam kondensator suhu yang menstabilkan suhu mesin kejiwaanku. Atau tetap pada belanjaanku siang ini di swalayan dedinginan.
Lotisan pelem, membuatku ingin pulang ke rumah orang tuaku..... Mamak..

Kamar kakakatin, 14 : 17
cempluk

Jumat, 01 Oktober 2010

Pertempuran tanpa musuh

[ 29 Sept 2010 ]
Mengedap-ngedipkan mata, itu saja. Aku suka. Karena tak mungkin aku mengedap-ngedipkan mulut, walaupun gerakannya sejenis, namun itu namanya bukan mengedap-ngedipkan, tapi ‘mongap-mangap’.
Setelah seharian kuliah luntang-lantung lantaran ditinggal dosen –tanpa surat ijin tidak masuk kuliah / semacam kewajiban mahamurid— ,, kemudian dibersamai oleh dosen yang ekstra sabar tenang dan pantang menyerah –berbeda dengan dosen yang mengajar tadi pagi jam pertama— bersama adik-adik maba yang sebenarnya aku tak sopan juga jika memanggilnya ‘dik’, ‘mas’, ‘mbak’, atau sekedar nama, huh mereka membuatku dilemtot ( dilema total : red ) pasalnya mereka itu sepantaran dengan aku, oke tinggalkan mereka,, kemudian pergi pulang ke kos untuk mengangkat jemuran –maksudku bajuku yang dijemur, bukan jemuran baju yang diangkat— karena rerintikan hujan sempat sekelebat menghujam di rumah semut pojokan kosanku,, kemudian sebeeeeentaaaaarrrr bernafas lega istirahat ngambruk di kamar kakakatin –padahal kemarin ada agenda rapat hari ini, tapi entahlah...—,, kemudian bersih diri dan bersiap bersenjata lengkap dengan segala atribut ketentuan dari atasan sana,, kemudian menuju kos kakakeka bersama kakakatin, eh enggak ding, kakakeka sudah terkondisikan di medan tempur bersama bundalin, kemudian aku dibersamai oleh kakakatin berjalan gegap gemita melalui jalan pintas yang sangat dahsyat karena jalan itu keren sekali (jangan bilang siapa-siapa, termasuk yang baca ini), oh ya, kami sedikit beralasan mengambil jalan pintas itu karena kami (maksudku : AKU) takut dengan guguk yang dibawa oleh mas dokter yang baru saja keluar dari rumah sakit hewan dan berjalan di belakang kami, kemudian setelah sampai di penghujung jalan pintas itu di pertigaan tiba-tiba si guguk –bersama mas dokter itu— makjengunggut ada di depan kami lagi, kemudian aku memaksakan diri untuk menyalahi peraturan polisi lalu lintas, biar sajalah aku memaksa kakakatin untuk tetap berjalan di lajur kanan, toh ini nggak ada polisi, mereka masih tidur dan nggak akan terbangun walaupun digigit nyamuk sekalipun, gara-garanya Cuma satu : di lajur kiri ada si guguk, aku tidak lagi memikirkan atribut dan persenjataan yang aku bawa, biar saja ‘malu’ kuusir sebentar dari bilik kanan jantungku, kemudian secara dumadakan : si guguk balik kanan maju jalan setelah kami menemukan lagi jalan pintas yang lain (ini juga jangan dibilangkan siapa-siapa ya.Sssstt), kemudian kemudian kemudian.... fyuuuhhh...terserang penyakit gila nomer berapa ya aku ini?
Hai....si pembaca, Anda bukan dari jurusan bahasa indonesia kan? Hmmm....itu tadi adalah contoh kalimat amat sangat super duper majemuk sekali, coba saja Anda membuat pola-pola SPOKnya, maka akan Anda dapati sebuah gambar tangga yang acak-acakkan. (Biarkan aku bergaya seperti ada secuwil manusia yang membaca tulisanku ini, walaupun sebenarnya tak akan ada yang membacanya, boro-boro membaca, membuka pun tidak, apalagi ngomen. Haha). Yah, mungkin seberantakan tangga itu lah kisah perjalanan hidupku yang panas dingin, aku hanya takut kalau terjadi pelapukan jiwa seperti batu yang melapuk karena terlalu cepatnya pergantian suhu. Haduh....ada lagi penyakit gila disini. Cukup.
Harusnya aku minta maaf kepada pak presiden, karena aku yang berstatus sebagai mahamurid ini jelas-jelas dengan sengaja merusak ejaan bahasa persatuan bahasa Indonesia. Tapi karena tak mungkin aku datang ke jakarta hanya untuk mengatakan hal itu (aku tidak mau mendramatisirkannya menjadi semacam perjalanan si Khan di pilem My Name is Khan itu walaupun aku bisa saja menulis judul My Name is Cempluk), dan aku tak punya nomer hapenya pak Presiden (lagipula hapeku juga belum sembuh dari keterserangan penyakit katarak, jadi dia sekarang buta), maka aku putuskan untuk melanjutkan mengetik luapan kelaparan yang tak jelas ini...
Oke. Kemudian sampailah kami di medan tempur.. Bertempurlah kami. Pertempuran yang sangat menengangkan, dahsyat, luar biasa, hebat, wuiiiihhhh....pokoknya mahatempur (Hah??apaan?dapat istilah dari mana?). Satu keunikan dalam pertempuran ini : PERTEMPURAN TANPA MUSUH.
Yah, karena aku takut akan terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan, maka aku akhiri saja tulisan nggak jelas ini. Sampaikan saja salamku untuk medan tempur yang tiap beberapa menit sekali terdengar bunyi “pppsssssttt”, itu bukan suara si siapa yang buang gas, tapi suara alat yang terpasang di atas sana yang sedikit membuat heharuman di tengah pertempuran. Dan salam juga untuk baling-baling yang setia berputar di atas sana. Oh ya, tak seperti yang terdahulu, pertempuran kali ini lebih mengenyangkan, eh, bukan, menyenangkan. Bagaimana tidak, tak ada ancaman, tak ada tembakan yang menghujam, tak ada meriam, tak ada bambu runcing, tak ada apa apa, malahan ada gelak tawa cekikak cekikik dan sedikit kepanikan yang berujung kelegaan karena komandan telah mengambil alih semuanya. Satu lagi, komandan mungkin sedang bersuka cita dengan bagasi mengkilapnya dan kostum jambonnya. Maka dari itu di akhir pertempuran ini sang komandan menitipkan gurauan tentang gelapnya dunia ini jika kita kehilangan petromak, eh, maksudku kehilangan sang pencerah (wah....jadi ingat, aku kepengen nonton film sang pencerah. Sruks sruks).
PERTEMPURAN TANPA MUSUH. Hanya akan terjadi di dalam diri ini, mungkin. Ketika ada satu kasus yang dihidangkan oleh satu kubu untuk kubu yang lain, sedangkan mereka berseteru kuat sekali, sedangkan diantara mereka terjalin suatu hubungan darah, sedangkan diantara mereka sudah terlanjur ada sajian konflik, sedangkan mereka bukan musuh. Maaf lagi, ini pun juga setipe dengan kalimat amburadul di atas.
Untuk bundalin, kakakeka, kakakatin, dan kakakkakak yang lain yang aku pun masih rumit tentang silsilah keluarga ini.

Rindha, cempluk, dik rin, rinrin, ndanda, rineka, apa lagi? Ya terserahlah...

Dan ketika kau temui kesedihan dalam hati yang tersebabkan karena suatu kekecewaan, maka bersyukurlah, karena sungguh kau masih diberi nikmat berupa hati untuk menikmati dan menjadi saksi betapa agungnya mahakarya ciptaan Allah ini, kau telah ditunjuk sebagai saksi. (Celetukan Cempluk di pojok kamar, 29 Sept 2010, 21:24 ]