Selasa, 22 Desember 2009

Makalah Hubungan aksel dan psikis

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Pada era sekarang ini, manusia dituntut untuk lebih berpikir kritis dan praktis. Terutama mereka yang bergelut dalam dunia pendidikan. Banyak ide bermunculan mengenai program-program pendidikan yang bertujuan untuk mendongkrak potensi peserta didik. Di Indonesia sendiri sepert yang kita ketahui banyak kurikulum yang silih berganti, mulai dari CBSA, KBK, maupun KTSP. Semua itu berubah sesuai perkembangan zaman. Pergantian kurikulum hanyalah satu dari sekian banyak kiat-kiat yang dilakukan untuk memperbaiki mutu pendidikan kita.

Beberapa tahun terakhir, Indonesia mengenalkan program terbaru bagi dunia pendidikan, yaitu program percepatan atau akselerasi. Program percepatan ini juga merupakan salah satu cara yang dilakukan guna meningkatkan mutu pendidikan Indonesia. Yang melatarbelakangi diselenggarakannya program ini adalah banyaknya kasus dimana dalam satu kelas terdapat suatu jurang antara siswa mempunyai kemampuan lebih dengan siswa yang berkemampuan dibawahnya. Dan hal itu dapat menghambat proses KBM, karena sebagian siswa menuntut untuk cepat sedangkan sebagian yang lain meminta untuk memperlambat pembahasan materi dalam KBM. Hal yang demikian itu menimbulkan suatu rumusan masalah bagaimana solusi yang tepat untuk mengetengahi kasus tersebut, sehingga dicanangkanlah program akselrasi.

Pada umumnya program akselerasi ini diberlakukan di tingkat Sekolah Menengah Pertama(SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA). Pada awalnya, adanya kelas akselerasi ini disambut dengan decak kagum oleh masyarakat, karena pada kelas ini siswa dapat mempersingkat waktu tempuh sekolah, sekolah yang seharusnya ditempuh selama tiga tahun hanya ditempuh selama dua tahun di kelas akselerasi ini. Tujuan diadakannya kelas akselerasi adalah untuk menghimpun peserta didik yang memiliki bakat khusus dan kemampuan kecerdasan tinggi atau di atas rata-rata untuk dikembangkan secara optimal dan dapat menyelesaikan masa belajarnya dalam 2 tahun.

Tidak semua SMP atau SMA mempunyai kelas percepatan ini. Di Kulon Progo, misalnya, baru ada satu SMA yang memiliki program ini, yaitu SMA 1 Wates yang baru tiga tahun ini membuka kelas percepatan. Ataupun di SMA 1 Wonosari dan di SMA 8 Jakarta. Dan rata-rata di setiap satu angkatan hanya ada satu kelas akselerasi, dimana setiap kelas akselerasi hanya menampung maksimal 24 siswa. Begitu pula dengan siswanya, tidak semua siswa dapat masuk di kelas tersebut. Untuk diterima menjadi siswa akselerasi harus menempuh beberapa tes.

B. KAJIAN TEORI
Sekolah dipandang perlu memberikan layanan kepada siswa yang memiliki tingkat kemampuan, kecerdasan, bakat yang luar biasa dalam bentuk perlakuan pendidikan peng-ajaran diatas standar (rata-rata). Perlunya perhatian khusus kepada siswa yang memiliki kemampuan, kecerdasan dan bakat yang luar biasa. Pengembangan potensi tersebut memerlukan strategi yang sistematik dan terarah kepada anak didik sehingga lebih meperhatikan perbedaan antar anak didik dalam bakat dan minatnya.
Kelas ini dirancang menjadi kelas unggulan. Proses rekrutmen untuk melihat potensi siswa dilakukan secara multidimensional. Rekrutmen dilakukan dengan mengembangkan konsep keberbakatan dari Renzulli, Reis dan Smith (1978). Konsep itu menyebutkan bahwa anak berbakat mempunyai IQ minimal 125 menurut skala Wechsler, selain itu harus mempunyai task commitment dan creativity quotion di atas rata-rata.

Adapun dasar hukum diselenggarakannya program akselerasi :
1. Undang-Undang No. 2 Tahun 1989 Pasal 8 Ayat 2
2. Undang-Undang No. 2 Tahun 1989 Pasal 24 Ayat 1, Pasal 24 Ayat 2, Pasal 24 Ayat 6
3. GBHN 1993 dan GBHN 1998
4. Keputusan Mendiknas No. 048/U/1992 dalam Pasal 16.
5. Keputusan Mendiknas No. 048/U/1992 dalam Pasal 16

Tujuan diadakannya kelas akselerasi adalah untuk menghimpun peserta didik yang memiliki bakat khusus dan kemampuan kecerdasan tinggi atau di atas rata-rata untuk dikembangkan secara optimal dan dapat menyelesaikan masa belajarnya dalam 2 tahun. Hasil yang diharapkan dari program akselerasi :
1. Kelulusan memiliki rata-rata NUAN : 7,00 atau lebih
2. Memiliki Keberhasilan yang tinggi:
diterima di perguruan Tinggi Ternama dalam dan luar negeri.
3. Mampu menghasilkan siswa yang memiliki:
• Keimanan dan ketaqwaan
• Nasionalisme dan Patriotisme yang tinggi dengan kepribadian Pancasila
• Wawasan IPTEK yang luas
• Motivasi dan Komitmen yang tinggi untuk prestasi
• Kepedulian sosial dan Kepemimpinan
• Disiplin pribadi yang tinggi
• Tanggung jawab yang tinggi
• Kondisi fisik yang prima
• Gemar membaca dan meneliti
• Berbahasa Inggris yang baik dan lancar

















BAB II
PROGRAM AKSELERASI

A. SELUK BELUK AKSELERASI
Penyelenggaraan program akselerasi (percepatan belajar) dianggap salah satu alternatif bagi siswa yang memiliki kemampuan dan kecerdasan di atas rata rata. Ini dilakukan untuk mengimbangi kekurangan yarig terdapat pada kelas klasikal yang bersifat massal. Melalui program ini memungkinkan siswa dapat menyelesaikan waktu belajar lebih cepat dari yang ditetapkan.

Dr Herry Widyastono MPd mengelompokkan kecerdasan dan kemampun siswa dalam tiga strata: anak yang memiliki kemampuan dan kecerdasan di atas rata rata, rata rata, dan di bawah rata rata. Siswa di bawah rata rata memiliki keeepatan belajar di bawah kecepatan belajar siswa umumnya. Sebaliknya, siswa yang memiliki kemampuan dan kecerdasan di atas rata rata memiliki kecepatan belajar di atas kecepatan belajar siswa siswa lainnya.
Siswa yang memiliki kemampuan dan kecerdasan rata rata, menurut dia, selama ini diberikan layanan pendidikan dengan mengacu pada kurikuluin yang berlaku secara nasional. Itu karena kurikulum tersebutdisusun terutama diperuntukkan bagi anak-anakyangmemilikikemampuandan kecerdasanrata-rata. Siswa dengan kemampuan dibawah rata-rata, diberikan layanan pengajaran remidi (remedial teaching).

Herry yang berbicara dalam seminar Program Percepatan Belajar bagi Pengawas dan Kepala SMP Negeri dan Swasta di Jakarta, mengatakan bahwa mereka belum mendapat layanan pendidikan sebagaimana mestinya., "Bahkan, kebanyakan sekolah memberikan perlakuan yang standar (rata rata), bersifat klasikal dari massal, terhadap semua siswa, baik siswa di bawah rata rata, raat-rata, dan di atas rata rata, yang sebenarnya memiliki kebutuhan berbeda," ujarnya.
Akibatnya, siswa di bawah rata rata yang memiliki kecepatan belajar di bawah rata-rata akan selalu tertinggal dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar. Siswa di atas rata rata akan jenuh karena harus menyesuaikan diri dengan kecepatan belajar siswa siswa lainnya. Sekitar 30 persen siswa SMA yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa berprestasi di bawah potensinya. Herry Menurut penelitian, ada 20 persen siswa SLTP dan SD di Jawa Barat, Jawa Timur, Lampung, dan Kalimantan Barat yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa, berisiko tinggal kelas karena nilai rata rata rapornya untuk semua mata pelajaran catur wulan 1 dan 2, kurang dari enam. Bagi siswa dalam kategori ini, perlu ada pelayanan pendidikan khusus. Salah satu alternatif yang bisa dilakukan itu tadi, dengan menyeleng-garakan akselerasi, program percepatan belajar.

Drs. Fakhruddin MPd, wakil kepala SMA Labschool Rawamangun menyebut tiga bentuk atau model penyelenggaraan program akselerasi yang dapat dilakukan. Yakni, program khusus, kelas khusus, dan sekolah khusus. Namun dia menyatakan, setiap bentuk memiliki kelebihan dan kekurangan.
Model sekolah khusus yang memberikan layanan pada suatu sekolah khusus diperuntukkan bagi siswa akselerasi (berasrama maupun tanpa berasrama), misalnya. Kelebihan dalam sekolah berasrama, waktu belajar bisa lebih panjang dan memudahkan kegiatan ekstrakurikuler.
Tanpa berasrama, memudahkan perencanaan kegiatan dan ada interaksi dengan sekolah lain. Kekurangannya, sekolah berasrama tidak sesuai untuk jenjang SD, sedangkan tanpa berasrama akan timbul elitis yang kurang baik. Bagaimanapun, menurut Herry Widyastono, penyelenggaraan kelas akselerasi bagi siswa yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa merupakan salah satu strategi alternatif yang relevan, karena mereka memiliki kecepatan belajar dan motivasi belajar di atas siswa-siswa lainnya.
Namun, ini tidak berarti peningkatan mutu pendidikan untuk peserta didik secara klasikal massal terabaikan, melainkan perbedaannya terletak pada intensitas dan ektensitas perhatian yang diberikan kepada peserta didilk sesuai dengan kondisi mereka.

B. SISTEM DALAM PROGRAM AKSELERASI
Dalam rekruitmen siswa akselerasi, terdapat dua tahap, yaitu :
1. Tes Seleksi
a. . Psikotes
Psikotes bekerjasama dengan biro Psikologi yang berwenang untuk mengetahui kemampuan intelegensi, kematangan emosi, motivasi berprestasi, kreativitas dan komitmen tes
b. Tes Potensi Akademik (TPA)
Mata pelajaran :
PPKn, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, dan IPA

2. Wawancara
Tes wawancar bertujuan untuk mendapatkan bebagai informasi tentang calon, antara lain berupa Scor tes, latar belakang kehidupan, cita-cita masa depan, minat siswa, motivasi.

Namun, selain dua tahapan tersebut ada juga sekolah yang menambahkan tahap lain yaitu pengamatan. Pada tahap pengamatan ini siswa yang sudah terjaring/kelompok calon siswa akselarasi diamati oleh team secara terus-menerus selama 2 bulan semester 1 kelas I dalam hal: kemampuan bersifat kritis mengemukakan pendapat baik lisan maupun tertulis, beradaptasi bersosialisasi dan bertanggung jawab. Jika hasil pengamatan menyatakan bahwa siswa tersebut tidak sanggup menjalani program percepatan, maka akan menjadi bahan pertimbangan antara siswa, pihak sekolah, dan wali murid.

Pengambilan keputusan “penerimaan siswa akselerasi” dilaksanakan bertahap, mulai dari musyawarah guru hingga pelaksanaan beberapa agenda sebagai berikut :
• Memanggil anak dan Orang Tua yang bersangkutan untuk mendapatkan penjelasan tentang program Akselarasi
• Siswa dan Orang Tua yang telah menyetujui dengan surat kesediaannya dinyatakan sebagai siswa program Percepatan Belajar
• Siswa tersebut dikelompokkan pada kelas khusus


Mengenai kurikulum yang digunakan dalam program akselerasi, sedikit bebeda dengan krikulum pada kelas regular (biasa). Kelas akselerasi menggunakan kurikulum KBK/KTSP yang dipadatkan dari 6 semester selama 3 tahun menjadi 6 semester dalam jangka waktu 2 tahun. Jadi, materi pelajaran yang seharusnya diajarkan selama 3 tahun harus diselesaikan selama 2 tahun. Dengan demikian kelas akselerasi melaksanakan ujian blok semester setiap 4 bulan sekali, dan ujian kenaikan kelas setiap delapan bulan sekali. Untuk jam pelajaran, masing-masing sekolah memberikan kebijakan yang berbeda-beda. Misalnya saja, di SMA 1 Wates, jam pelajaran kelas akselerasi tetap sama dengan jam pelajaran kelas reguler, masuk jam 07.00 dan pulang jam 13.45. Namun di SMA 1 Wonosari, jam pelajaran kelas akselerasi berakhir pada sore hari. Siswa kelas akselerasi akan melaksanakan Ujian Nasional bersama dengan kakak angkatan kelas regular.


BAB III
HUBUNGAN ANTARA KELAS AKSELERASI DENGAN PERKEMBANGAN PSIKIS SISWA

A. Kelemahan akselerasi
Penyelenggaraan kelas akselerasi yang sudah diujicobakan beberapa tahun terakhir ini masih mengandung pro dan kontra. Beberapa kelemahan mengiringi penyelenggaraan kelas akselerasi itu.
Pertama, stigmatisasi pada diri siswa yang ada di kelas reguler. Dalam sebuah kesatuan lingkungan, bisa dikatakan bahwa kelas reguler adalah kelas yang relatif jelek bila dibandingkan dengan kelas akselerasi.
Kedua, timbulnya budaya inferior, muncul kelas eksklusif, arogansi, dan elitisme. Dengan kondisi yang betul-betul berbeda dengan segenap potensi intelektual yang lebih tinggi, jelas siswa-siswa kelas akselerasi akan jauh lebih berprestasi dibanding kelas reguler. Inferioritas pun mudah menghinggapi siswa kelas reguler, dan sebaliknya eksklusivisme, arogansi dan elitisme akan mudah melekat pada diri siswa-siswa kelas akselerasi. Masing-masing siswa membentuk group reference mereka sendiri-sendiri.
Ketiga, terjadi dehumanisasi pada proses belajar di sekolah. Materi pelajaran yang diselesaikan oleh siswa reguler selama satu tahun harus dilalap habis siswa akselerasi selama satu semester (setengah tahun). Dengan alokasi waktu yang jauh lebih pendek ini mau tidak mau siswa harus belajar keras. Segi intelektualitas, potensi mereka memang memungkinkan. Tetapi, mereka bukanlah mesin yang bisa diset untuk hanya melakukan satu aktivitas.
Keempat, siswa kelas akselerasi tidak memiliki kesempatan luas untuk belajar mengembangkan aspek afektif. Padatnya materi yang harus mereka terima, banyaknya pekerjaan rumah yang harus mereka selesaikan, ditunjang kemampuan intelektual yang mereka miliki dan teman-teman sekelas yang rata rata pandai, membuat iklim kerja sama mereka menjadi terbatas. Tugas-tugas itu bisa mereka selesaikan sendiri.

Dari sisi waktu, penyelenggaraan kelas akselerasi menguntungkan, siswa yang bakat intelektualnya tinggi dibantu secara khusus, sehingga mereka mendapatkan bantuan pengajaran lebih sesuai bakatnya. Mereka akan dapat cepat lulus, diperkirakan setahun lebih awal dibanding siswa biasa. Jadi, keuntungannya terletak pada akselerasi pengajaran. Dengan program percepatan ini diharapkan siswa berbakat tidak bosan di kelas yang sama dengan siswa lain, sehingga tidak mengganggu, mengacau kelas, dan dia dapat terus maju dengan cepat. Kelas model ini memang menjanjikan siswa lebih cepat selesai dibandingkan melalui tahapan-tahapan pada umumnya.
Dalam perdebatan soal pendidikan nasional, banyak dipersoalkan kurangnya pendidikan nilai di sekolah-sekolah, dari SD sampai SMU. Disadari, kebanyakan sekolah terlalu menekankan segi kognitif saja, tetapi kurang menekankan segi nilai kemanusiaan yang lain. Maka mulai disadari pentingnya pendidikan nilai, termasuk pendidikan budi pekerti dan segi-segi kemanusiaan lain, seperti emosionalitas, religiusitas, sosialitas, spiritualitas, kedewasaan pribadi, dan afektivitas. Masalahnya, pendidikan nilai tidak bisa dipercepat, bahkan instan. Pendidikan nilai kemanusiaan memerlukan latihan dan penghayatan yang membutuhkan waktu lama, sehingga sulit dipercepat. Misalnya, penanaman nilai sosialitas perlu diwujudkan dalam banyak tindakan interaksi antarsiswa dan kerja sama; penanaman nilai penghargaan terhadap manusia lain membutuhkan latihan dan mungkin hidup bersama orang lain, dan tidak cukup hanya dengan pengajaran pengetahuannya.
Dengan mencermati kelemahan-kelemahan kelas akselerasi, konsep itu mestinya dikembalikan pada gagasan awal sebagai proses uji coba. Landasannya ialah, perkembangan intelektual dan moral anak yang baik tidak bisa instan, mereka harus dipaksa melalui tahapan-tahapan perkembangan sebagaimana anak-anak pada umumnya. Memaksakan diri dalam berbagai ketimpangan tiada ubahnya mengejar gengsi, gengsi orang tua mempunyai anak-anak cerdas. Juga gengsi di pihak sekolah, karena akan dianggap sekolah unggulan, dan biaya pendidikan di kelas tersebut relatif memang lebih mahal.

B. YANG DIBUTUHKAN
Menurut Prof Suyanto (2003) pengelompokan siswa secara homogen berdasarkan kemampuan akademik menjadi kelas superbaik, amat baik, baik, sedang, kurang, sampai ke kelas "gombal", tidak memiliki dasar filosofi yang benar. Yang memprihatinkan, pengelompokan itu disertai program promosi dan degradasi. Siswa yang tidak mampu mempertahankan prestasi akademiknya bisa digusur dari kelas superbaik ke kelas sedang. Bahkan mungkin bisa meluncur ke kelas paling bawah, kelas "gombal".
Persoalannya, apakah program kelas unggulan atau akselerasi mampu mendongkrak mutu SDM kita yang dinilai masih berada pada aras rendah? Apakah ada jaminan, anak-anak berotak cerdas yang jumlahnya hanya beberapa gelintir yang telah sukses menernpuh program kelas unggulan, atau akselerasi mampu menjadi generasi cerah budi yang memahami dinamika hidup yang berkembang di tengah-tengah masyarakat dan bangsanya? Kalau ini yang terjadi, dunia pendidikan kita telah lepas dari lingkaran dan dinamika kehidupan kontekstual yang berkembang di tengah-tengah masyarakat. Implikasinya, out-put yang dilahirkan oleh institusi pendidikan kita hanyalah generasi-generasi berotak brilian dan cerdas intelektualnya, tetapi miskin kecerdasan hati nurani dan spiritual. Pada akhirnya justru membikin mereka menjadi asing hidup di tengah-tengah masyarakat. Tidak memiliki kepekaan dalam merasakan denyut nadi kehidupan yang berlangsung di sekelilingnya.

Kita amat membutuhkan sosok manusia yang memiliki kecerdasan spiritual dan apresiasi tinggi terhadap nilai-nilai kejujuran, yang menciptakan damai di tengah berkecamuknya kebencian, yang menawarkan pengampunan bila terjadi penghinaan. Yang menabur benih kerukunan bila terjadi silang sengketa, yang memberikan kepastian bila terjadi kebimbangan. Yang menegakkan kebenaran bila terjadi beragarn bentuk penyelewengan dan kesesatan. Yang menjadi pembawa terang di tengah kegelapan hidup.
Nilai-nilai kejujuran, sudah menjadi moralitas bangsa yang tergadaikan. Budaya malu sudah nyaris hilang dari memori bangsa. Korupsi, manipulasi, kolusi, nepotisme, dan sejenisnya marak terjadi di mana-mana. Perilaku keagamaan hanya sampai pada tataran ekstrinsik. Agarna hanya dijadikan sebagai topeng untuk pencapaian kepentingan. Para elite pemimpin tidak bisa jadi teladan bagi anak-anak bangsa. Yang terjadi justru sebuah kebanggaan bila mereka mampu melakukan pembohongan publik, sehingga terlepas dari jerat hukum yang mengancam mereka atas perbuatan korup yang telah dilakukan. Sementara itu, di aras akar rumput, sentimen kesukuan dan etnis, anarkisme yang dibungkus fanatisme keagamaan, main hakim sendiri, dan kekerasan lainnya menjadi adonan perilaku yang gampang disaksikan dalam kehidupan sehari-hari. Apakah kelas akselerasi mampu menjawab dilematika pendidikan yang "tergadaikan" ini? Secara konseptual bagus, tetapi jika di dataran implementasi menimbulkan pro dan kontra, perlulah dicari solusi yang paling tepat. Sebagai sebuah proses pendidikan memerlukan pentahapan yang matang.







BAB IV
PENUTUP

KESIMPULAN
Berbagai penelitian mengenai siswa unggul dan adanya program akselerasi di berbagai Negara yang berusaha mengakomodasi kebutuhan golongan siswa tersebut, diulas dalam pidato tersebut. Termasuk pula berbagai pro dan kontra mengenai dampak akselerasi dari berbagai aspek. Dimulai dari berbagai penelitian yang dilakukan pada beberapa SMA di Indonesia yang memiliki program akselerasi, guru besar baru Asmadi Alsa menyimpulkan beberapa hal, diantaranya bahwa siswa akselerasi memang memperoleh percepatan dalam hal perkembangan secara kognitif, namun tidak dalam hal afektif dan psikomotoris.

Namun begitu, aktivitas belajar yang padat dapat memacu siswa sehingga memiliki daya juang yang tinggi dalam belajar, karena memang tidak ditemukan adanya dampak negatif dari hal itu. Meski demikian, pemantauan pada semester awal menjadi amat penting dalam rangka melakukan tindakan lanjutan bagi siswa yang ditemukan memiliki potensi tidak cukup mampu melakukan penyesuaian diri dengan tuntutan program maupun juga lingkungan akademik dan sosial yang baru. Bagaimanapun, evaluasi terhadap program akselerasi di Indonesia harus terus dilakukan dari berbagai aspek. Keberhasilan akselerasi di Negara lain tidaklah dapat menjadi pegangan, mengingat kondisi demografis dan sosio-kultural yang berbeda.

Yang kita butuhkan adalah generasi yang cerdas secara emosi, spiritual dan intelektual, bukan hanya generasi yang cepat lulus dan tidak mempunyai kecakapan sosial. Adanya kelas akselerasi membuka peluang siswa untuk mempersingkat waktu temph sekolah, namun mengabaikan perkembangan psikis siswa. Bahkan seleksi masuk kelas akselerasi pun hanya cenderung mendasarkan pada IQ yang tinggi, bukan pada kecerdasan emosi dan spiritual yang sangat penting bagi kesuksesan di masa depan.





DAFTAR PUSTAKA

Sugihartono,dkk.2007.Psikologi Pendidikan.Yogyakarta:UNY Press
http://www.suaramerdeka.com/harian/0403/29/kha1.htm
http://www.sampoernafoundation.org/content/view/205/48/lang,id/
http://integralsolo.wordpress.com/2007/07/02/tinjauan-pakar-psikologi-tentang-program-akselerasi/>>>
http://www.ugm.ac.id/index.php?page=rilis&artikel=792
http://202.146.5.33/kesehatan/news/0408/15/220038.htm
http://puskat.psikologi.ui.ac.id/index.php/artikel/Kebutuhan-Sosial-dan-Emosional-pada-Anak-Berbakat.html
http://www.smun8.net/index.php?option=com_content&task=view&id=32&itemid=102



Minggu, 20 Desember 2009

Aku yang melakukannya

Satu hal yang terbesit di hatiku
Tatkala di merasuki seluruh nadiku
Kabar itu seakan memukul-mukul dinding paruku
Hentak. Hentakan!Terhentak!!
Seakan kutemukan satu beban yang pasti
Beban yang melengkapi sisi neracaku
Yang dulu goyah
Tetap goyah. Dan semakin goyah.
Ssok terhormat yang berdiri disana
Suara lembut itu
Namun terabai oleh perhatianku
Rentetan kata yang kudengar
Bukan suara itu
Andai dinding itu membusung dadanya
Dan suara itu terpantul menggema
Mungkin mengoyak kendang telinga
Memporakporandakan tulang pendengaran
Terkesan berlebihan memang
Hanya karena hatiku yang membandel
Aku yang menutup wajah
Wahai Dzat pemilik nyawaku
Maafkan diri ini
Yang kufur atas nikmatMu
Dan tak pernah puas
Wahai sosok yang terhormat itu
Maaf, bukan Anda yang mengiris hatiku
Tapi akulah yang menyayat dinding hatiku
Aku yang melakukannya
Aku yang melakukannya
Aku yang melakukannya


Senin, 30 November 2009

ijinkan aku melupakanmu

Wahai engkau yang pernah singgah di lubuk hatiku,
izinkan aku untuk melupakanmu,
akan kuhapus memori indah yang pernah terjadi dahulu.

Biarkan aku melangkah dengan pijakan pada kakiku,
jangan kau sandungi dengan beban kenangan,
yang akan membelenggu langkahku,
yang akan menghancurkan harapanku.

Ya, izinkan aku untuk melupakanmu,
sepenuh hati,
segenap jiwaku,
seluruh perasaanku...

Minggu, 29 November 2009

Akselerasi ! Benarkah itu jalan yang tepat untuk mereka?

Akselerasi adalah salah satu program yang dicanangkan oleh pemerintah sebagai lahan untuk siswa yang memiliki kemampuan yang lebih. Dikutip dari kata-kata salah seorang guru pengampu salah satu mata pelajaran di kelas akselerasi yang mengatakan bahwa siswa ekselerasi pada umumnya mempunyai ciri khas tersendiri, unik, jika dibandingkan dengan siswa kelas regular. Begitu pun dengan pendapat sebagian siswa regular terhadap siswa akselerasi.
Akselerasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia secara singkat diartikan sebagai percepatan. Menurut (Latifah, 2006) akselerasi adalah “program layanan pendidikan yang diberikan kepada siswa yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa untuk menyelesaikan masa belajarnya lebih cepat dari siswa yang lain (reguler). Menurut Hawadi (2004 : 121) istilah akselerasi dalam program ini berarti diartikan: “meningkatkan kecepatan waktu dalam menguasai materi yang dipelajari, yang dilakukan pada kelas khusus. Program akselerasi dapat diartikan dengan seperangkat kegiatan pendidikan yang diatur sedemikian rupa, sehingga dapat dilaksanakan oleh anak didik yang memiliki potensi kecerdasan yang lebih dari siswa lain dalam waktu yang lebih singkat dari biasanya”.
Beberapa tahun terakhir banyak digembar-gemborkan diadakannya program akselerasi di sekolah-sekolah. Kita ambil contoh ekselerasi di SMA, dimana masa SMA yang sewajarnya ditempuh selama tiga tahun akan dijalani selama dua tahun di kelas akselerasi. Dari pengertian tersebut kita tangkap suatu rumus bahwa siswa akselerasi adalah mereka yang mempunyai IQ diatas rata-rata. Penyaringan masuk program akselerasi pun berdasarkan hasil tes IQ yang disertai kemauan dan kesanggupan siswa. Proses penyaringan yang melalui beberapa tahap, antara lain : tes kemampuan (mengerjakan soal), tes IQ, dan wawancara. Sehingga didapatkan kemantapan atas penyaringan yang begitu ketat.
Namun sangat disayangkan, ketika “produk aksel” sebutan bagi mereka lulusan akselerasi tidak lebih baik dari pada temannya yang mengikuti program kelas regular. Hasil tes IQ yang tinggi tidak menjamin kesuksesan mereka dalam menempuh masa-masa ke-aksel-an mereka. Ketika tingginya IQ tidak diimbangi dengan kecerdasan emosi dan spiritual yang tinggi pula akan sangat buruk akibatnya. Hal itu justru akan menghambat mereka dalam menyesuaikan diri secara psikis terhadap lingkungan, yang akan mengganggu konsentrasi mereka dalam menerima pemadatan materi pelajaran. Dengan begitu hasil yang mereka dapatkan dapat dikatakan tidak lebih baik atau sama dengan hasil yang didapatkan olah siswa kelas regular. Mereka yang lahir prematur itu dirasa kurang siap secara mental dalam menghadapi dunia pendidikan tingkat atasnya, dimana faktor kedewasaan pola pikir lebih dituntut untuk bisa bergaul dengan teman yang memang lebih dewasa dari pada mereka.
Bahasan selanjutnya mengenai timbangan antara IQ, SQ, dan EQ yang harus dilirik ketika memasuki wilayah akselerasi. Ketiga macam kecerdasan tersebut harus seimbang. Karena perbedaan yang tajam diantara tingat ketiga kecerdasan tersebut akan sangat mengganggu belajar mereka. Toh, ketika dikatakan bahwa belum ada tes yang baku untuk mengukur seberapa besar tingkat SQ dan EQ seseorang, namun setidaknya diri kita sendiri yang harus senantiasa mengasahnya dan kita pun mengetahui sampai tingkat mana kecerdasan emosi dan spiritual kita melalui instropeksi diri. Hal ini lah yang harus benar-benar diketahui oleh para calon warga aksel sebelum menginjakkan kaki di wilayah serba padat tersebut. Karena di dalam kehidupan keseharian anak aksel akan banyak dituntut untuk serba cepat, cepat dalam memahami materi pelajaran yang dipadatkan, cepat dalam mengerjakan tugas, ataupun cepat dalam berpikir,mengambil keputusan,dan bertindak. Ketika mental kita tidak kuat, kejenuhan yang luar biasa akan dirasa ketika yang dihadapi hanyalah penumpukan tugas dan pemadatan materi, tugas - belajar -tugas - belajar- tugas…dst. Dan dapat mencapai titik jenuh yang rawan ketika secara psikis mereka merasa tertekan dan terlalu terbebani, hal itu menjadi indikasi bahwa kecerdasan emosi dan spiritualnya tidak mengimbangi kecerdasan intelegensinya.
Menjawab judul diatas. Jalan akselerasi dapat dikatakan tepat bagi mereka jika mereka benar-benar menyadari ‘siapa mereka’ sebelum mencicipi perjalanan ke-aksel-en tersebut. Serta dapat dikatakan tidak tepat bagi mereka yang belum menyadari ‘siapa mereka’ dan hanya mengincar jalan itu sebagai jalan pintas mempersingkat untuk waktu tempuh.


Peran IQ, EQ, dan SQ pada Kesuksesan

kesuksesan seseorang tidak hanya ditentukan oleh kemampuan otak dan daya pikir semata, malah lebih banyak ditentukan oleh kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ). Tentunya ada yang salah dalam pola pembangunan SDM selama ini, yakni terlalu mengedepankan IQ, dengan mengabaikan EQ dan SQ. Oleh karena itu kondisi demikian sudah waktunya diakhiri, di mana pendidikan harus diterapkan secara seimbang, dengan memperhatikan dan memberi penekanan yang sama kepada IQ, EQ dan SQ.
Pendidikan sekolah bukan lagi satu-satunya tumpuan keberhasilan seseorang dalam meraih kebahagiaan. Sistem pendidikan yang dikenal selama ini hanya menekankan pada nilai akademik, kecerdasan otak saja. Siswa dituntut belajar mulai sekolah dasar hingga perguruan tinggi sekedar supaya memeroleh nilai bagus yang dapat dijadikan bekal mencari pekerjaan. Kecerdasan IQ ditengarai tidak berjalan seimbang dengan dua kecerdasan lainnya, yakni kecerdasan emosi dan kecerdasan spiritual. Di sisi lain, dijumpai kekerasan dan penyimpangan perilaku. Keahlian dan pengetahuan saja tidaklah cukup, perlu ada pengembangan kecerdasan emosi, seperti inisiatif, optimis, kemampuan beradaptasi. EQ dengan garis hubung antara manusia dengan manusia yang lain. Sedangkan SQ, hubungan manusia dengan Tuhan. Tiga kecerdasan tersebut tidak bisa dipisahkan. Ketika seseorang berhasil meraih kesuksesan dengan memaksimalkan IQ dan EQ, seringkali ada perasaan hampa dalam kehidupan batinnya, karena mereka tidak memuat SQ.
Peran IQ, EQ, dan SQ diantaranya dapat meningkatkan motivasi karyawan dalam bekerja. Bahkan bisa merubah budaya ketidakdisplinan menjadi disiplin dan meningkatkan rasa tanggung jawab karyawan terhadap perusahaan tempat ia bekerja. Metodologi training yang diterapkan akan menuntun peserta membangkitkan 7 nilai dasar, yakni kejujuran, keadilan, kedisiplinan, tanggung jawab, visioner, kerjasama, dan kepedulian. Tujuh nilai dasar itu sebenarnya sudah ada dalam diri manusia. Sehingga melalui pelatihan akan menghasilkan peningkatan secara berkesinambungan dan berkelanjutan seumur hidup.
Kecerdasan merupakan salah satu anugerah besar dari Allah SWT kepada manusia, gunakanlah kecerdasan itu dengan sebaik-baiknya dalam hal kebajikan. Sebagai pendidik (calon pendidik), dalam mewujudkan diri sebagai pendidik yang profesional dan bermakna, tugas kemanusiaan kita adalah berusaha membelajarkan para peserta didik untuk dapat mengembangkan segenap potensi (fitrah) kemanusian yang dimilikinya, melalui pendekatan dan proses pembelajaran yang bermakna (SQ), menyenangkan (EQ) dan menantang atau problematis (IQ), sehingga pada gilirannya dapat dihasilkan sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas baik dari otak maupun hatinya.Untuk menjadi seorang pribadi yang sukses kita harus mampu menggabungkan dan mensinergikan IQ, EQ, dan SQ. Ilmu tanpa hati adalah buta, sedangkan ilmu tanpa hati dan jiwa adalah hampa. Ilmu, hati, dan jiwa yang bersinergi itulah yang memberikan makna.


Penerapan IQ, EQ, dan SQ dalam Kehidupan

Sekarang ini kebanyakan manusia menganggurkan kecerdasan yang mereka miliki. Punya mata hanya untuk melihat tetapi tidak untuk memperhatikan, punya perasaan hanya untuk merasakan tetapi tidak untuk menyadari, punya telinga hanya untuk mendengar tetapi tidak untuk mendengarkan dan seterusnya. Oleh sebab itu, berbagai kecerdasan yang dimiliki haruslah dipergunakan dengan sebaik-baiknya dan jangan sampai disia-siakan.
IQ, EQ, dan SQ bisa digunakan dalam mengambil keputusan tentang hidup kita. Seperti yang kita alami setiap hari, keputusan yang kita buat berasal dari berbagai proses, diantaranya:
a. Merumuskan keputusan.
b. Menjalankan keputusan tersebut.
c. Menyikapi hasil pelaksanaan keputusan itu.
Rumusan keputusan itu seyogyanya didasarkan pada fakta yang kita temukan di lapangan realita (apa yang terjadi), bukan berdasarkan pada kebiasaan atau preferensi pribadi suka atau tidak suka.
Kita bisa menggunakan IQ yang menonjolkan kemampuan logika berpikir untuk menemukan fakta obyektif, akurat, dan untuk memprediksi resiko, melihat konsekuensi dari setiap pilihan keputusan yang ada. Rencana keputusan yang hendak kita ambil merupakan hasil dari penyaringan logika, juga tidak bisa begitu saja diterapkan, semata-mata demi kepentingan dan keuntungan diri kita sendiri. Bagaimana pun, kita hidup bersama dan dalam proses interaksi yang konstan dengan orang lain. Oleh sebab itu, salah satu kemampuan EQ, yaitu kemampuan memahami (empati) kebutuhan dan perasaan orang lain menjadi faktor penting dalam menimbang dan memutuskan. Kemudian dengan SQ kita dapat menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, serta untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup apa yang lebih bermakna supaya tidak sia-sia.
Banyak fakta dan dinamika dalam hidup ini yang harus dipertimbangkan. Kita pun sering menjumpai kenyataan, bahwa faktor human touch, turut mempengaruhi penerimaan atau penolakan seseorang terhadap kita (perlakuan kita, ide-ide atau bahkan bantuan yang kita tawarkan pada mereka). Salah satu contoh kongkrit, di Indonesia, budaya “kekeluargaan” sangat kental mendominasi dan mempengaruhi perjanjian bisnis, atau bahkan penyelesaian konflik. Ini merupakan salah satu pengaplikasian orang yang menggunakan IQ, EQ dan SQ dalam mengambil keputusan.
Perlu diakui bahwa IQ, EQ dan SQ adalah perangkat yang bekerja dalam satu kesatuan sistem yang saling terkait (interconnected) di dalam diri kita, sehingga tak mungkin juga kita pisah-pisahkan fungsinya. Berhubungan dengan orang lain tetap membutuhkan otak dan keyakinan sama halnya dengan keyakinan yang tetap membutuhkan otak dan perasaan. Meskipun keputusan yang dibuat harus berdasarkan pengetahuan dan keyakinan sekuat batu karang, tetapi dalam pelaksanaannya, perlu dijalankan se-fleksibel orang berenang.
Aplikasi keputusan dengan IQ, EQ, dan SQ ini hanyalah satu dari sekian tak terhitung cara hidup, dan seperti kata Bruce Lee, strategi yang paling baik adalah strategi yang kita temukan sendiri di dalam diri kita. “Kalau kamu berkelahi hanya berpaku pada penggunaan strategi yang diajarkan buku di kelas, namanya bukan berkelahi (tetapi belajar berkelahi)”.
Kecerdasaan Intelektual ( IQ ) anak telah ditumbuh kembangkan di sekolah, misalnya melatih keterampilan teknis dan pengetahuan ilmiah anak. Lalu, bagaimana dengan EQ dan SQ ?
 Melatih Kecerdasan Emosi Anak
Kini orang tua semakin peduli dengan karakter anak. Para orang tua semakin sadar dan yakin bahwa keberhasilan anak tidak lagi cukup dengan ketrampilan teknis dan pengetahuan ilmiah, namun juga dengan kemampuan pengendalian diri dan hidup bermasyarakat.
Secara garis besar ada dua hal utama dalam kecerdasan emosi, yaitu :
1. Mengenalkan dan mengajarkan berbagi jenis emosi kepada anak
Tips sederhana dalam mengajarkan kecerdasan emosi adalah dengan sering menyebutkan berbagai jenis emosi kepada anak. Misalnya anak sedang cemberut, maka sebagai orang tua kita dapat menegaskan situasi emosi tersebut kepada anak, misalnya dengan menanyakan, “Adik cemberut, apa sedang kesal? Adik kesal apa karena Ibu melarang nonton TV?” Dengan demikian anak dipandu untuk terbiasa mengenali kondisi emosi dirinya dan penyebab munculnya emosi itu.
2. Mengelola emosi
Setelah anak tersebut tahu berbagai macam emosi yang ada pada diri seseorang, langkah selanjutnya adalah mengajarkan kepada anak bagaimana mengelola emosi tersebut.
Tips sederhana untuk mengelola emosi adalah Ketika orang tua marah, sedih, bingung, kesal, gembira, dan situasi emosi lainnya, orang tua juga perlu menyampaikan alasannya. Misalnya, seorang anak bermain dan tidak membereskan mainannya setelah selesai, sang Ibu bisa berkata, “Adik, Ibu sangat kesal melihat mainan yang berantakan, karena Ibu menjadi repot membereskannya. Ibu akan senang kalau Adik membantu Ibu membereskan mainan sendiri.” Dengan pernyataan itu sang anak akan belajar mengenali situasi emosi ibunya (kesal), sebab munculnya (mainan berantakan), dan mengapa sebab tersebut menyebabkan munculnya emosi tertentu (kesal karena repot membereskannya). Perlu ditunjukkan ekspresi yang sesuai dengan emosi saat melatih anak kecil (kalau kesal ya jangan tersenyum, namun tunjukkan wajah serius dan cemberut). Semakin dewasa nanti semakin mungkin menyampaikan emosi dengan ekspresi yang berlawanan misalnya dalam bentuk sindiran (kesal, namun tersenyum).
Apabila anak sedari dini usia telah sering dilatih untuk peka dalam mengenali emosi, maka semakin dewasa akan semakin mudah mengenali emosi, dan akhirnya dapat menyesuaikan sikapnya dengan situasi emosi yang ada.
 Melatih Kecerdasan Spiritual Anak
Jika anak balita memiliki SQ paling tinggi, dia jujur mengungkapkan sesuatu beradsarkan apa yang ada di lubuk hatinya. Bila tak suka, anak balita akan bilang tak suka, tak memanipulasi jawabannya. Sejalan bertambahnya usia, SQ akan menurun, karenanya orangtua harus terus mengajarkan anak untuk mengembangkan SQ-nya, misal mengajarkan anak bahwa kakak menolong adik bukan karena dilandasi kewajibannya sebagai kakak semata, namun dilandasi nilai kasih sayang pada adik.
Kemampuan IQ tinggi dengan dibarengi EQ belum cukup jika tidak dibarengi oleh SQ. Misalnya pada kasus mengejar uang dan jabatan dengan cara mengabaikan apakah intelektual dan emosi yang digunakan telah menyingggung atau merugikan orang lain.
Pakar Sosilog anak DR Howard Gardner dalam riset yang dilakukannya mendapati adanya kecerdasan anak yang majemuk. Dalam kesimpulannya, tidak ada anak bodoh dan pintar. "Yang ada anak yang menonjol dalam salah satu atau beberapa jenis kecerdasan" ujarnya.Sikap dan pengetahuan orangtuanyalah yang menentukan apakah potensi kecerdasan anak akan berkembang atau justru padam.


Keseimbangan IQ, EQ dan SQ dalam Perspektif Islam

Keseimbangan IQ, EQ dan SQ dalam Perspektif Islam

Kecerdasan intelektual adalah kemampuan intelektual, analisa, logika dan rasio. Berfikir adalah media untuk menambah perbendaharaan/khazanah otak manusia. Manusia memikirkan dirinya, orang-orang di sekitarnya dan alam semesta. Dengan daya pikirnya, manusia berupaya mensejahterakan diri dan kualitas kehidupannya. Pentingnya mendayagunakan akal sangat dianjurkan oleh Islam. Tidak terhitung banyaknya ayat-ayat al-Qur'an dan Hadis Rasulullah SAW yang mendorong manusia untuk selalu berfikir dan merenung. Redaksi al-Qur'an dan al-Hadis tentang berfikir atau mempergunakan akal cukup variatif. Ada yang dalam bentuk khabariah, insyaiyah, istifham inkary. Semuanya itu menunjukkan betapa Islam sangat concern terhadap kecerdasan intelektual manusia. Manusia tidak hanya disuruh memikirkan dirinya, tetapi juga dipanggil untuk memikirkan alam jagad raya. Dalam konteks Islam, memikirkan alam semesta akan mengantarkan manusia kepada kesadaran akan ke-Mahakuasaan Sang Pencipta (Allah SWT). Dari pemahaman inilah tumbuhnya Tauhid yang murni ."Agama adalah akal, tidak ada agama bagi orang yang tidak berakal" hendaknya dimaknai dalam konteks ini.
Kecerdasan emosional adalah kemampuan merasakan, memahami dan secara efektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi, informasi koneksi dan pengaruh yang manusiawi. Dapat dikatakan bahwa EQ adalah kemampuan mendengar suara hati sebagai sumber informasi. Kecerdasan emosional mengajarkan tentang integritas kejujuran komitmen, visi, kreatifitas, ketahanan mental kebijaksanaan dan penguasaan diri. Dalam bahasa agama , EQ adalah kepiawaian menjalin "hablun min al-naas". Pusat dari EQ adalah "qalbu". Keharusan memelihara hati agar tidak kotor dan rusak, sangat dianjurkan oleh lslam. Hati yang bersih dan tidak tercemar lah yang dapat memancarkan EQ dengan baik. Di antara hal yang merusak hati dan memperlemah daya kerjanya adalah dosa. Oleh karena itu ayat-ayat al-Qur'an dan Hadis Rasulullah SAW banyak bicara tentang kesucian hati.
kecerdasan spiritual merupakan kemampuan untuk memberi makna ibadah terhadap setiap perilaku dan kegiatan, melalui langkah- langkah dan pemikiran yang bersifat fitrah dalam upaya menggapai kualitas dan ikhlas. Kalau EQ berpusat di hati, maka SQ berpusat pada "hati nurani" (Fuad/dhamir). Mengacu kepada paparan di atas, dapat ditegaskan bahwa Islam memberikan apresiasi yang tinggi terhadap SQ. Tinggal lagi bagaimana manusia memelihara SQ-nya agar dapat berfungsi optimal.
Oleh karena Islam memberikan penekanan yang sama terhadap " hablun min Allah " dan "hablun min al-naas ", maka dapat diyakini bahwa keseimbangan IQ, EQ dan SQ merupakan substansi dari ajaran Islam. Jika selama ini orang Islam sadar atau tidak, turut mengagungkan dan memberi penekanan terhadap pendidikan akal dengan mengenyampingkan pendidikan hati dan hati nurani berarti orang Islam telah mengabaikan semangat dan ajaran agamanya.
keseimbangan IQ, EQ dan SQ merupakan substansi dari ajaran Islam. Dengan IQ, manusia disuruh berfikir untuk hal yang positif, memikirkan kekuasaan Allah sehingga dapat mensyukurinya. Dengan EQ, manusia harus memelihara hati agar tidak kotor dan rusak, serta bersifat terpuji. Dengan SQ, manusia harus menempatkan perilaku dan hidupnya dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, mampu menilai bahwa tindakan mana yang bermanfaat dan tidak menimbulkan kemaksiatan.